Oleh: hafidzohalmawaliy | Juni 27, 2008

Perempuan dan Budaya : MEDIA BUDAYA, Kritis Merajut Setara

“Bagaimana kita bisa membebaskan perempuan

dari tirani pesan-pesan media yang mengungkung,

Kehidupannya sebatas tungku dan rumah.”

(Gaye Tuchman)

Hearth and Home, 1978

Bait di atas menarik dan tetap menandakan kondisi perempuan sekarang, meskipun telah dibacakan tiga dekade lalu. Dalam pandangan media budaya perempuan masih dianggap sebagai “tidak tahu apa-apa” selain urusan domestik (rumah tangga) belaka.

Perempuan di dalam film, novel, maupun dongeng, bahkan di dalam hukum adat dan agama, digambarkan sebagai manusia kelas dua setelah laki-laki. Hal ini merupakan peminggiran terhadap “diri” perempuan yang sudah mapan dan berkepanjangan. Elemen-elemen budaya telah memiliki watak memihak pada dominasi laki-laki. Dari sini dapat diambil kesimpulan, dalam media budaya perempuan belum “terbebaskan”.[1]

Perempuan dianggap sebagai obyek sasaran produk-produk media. Mereka adalah konsumen utama yang harus dipengaruhi, dan harus menerima produk secara ‘pasrah’ tanpa sikap kritis. Lebih jauh mereka dieksploitasi (dan mengeksploitasi) keperempuanannya, dan dijadikan komoditas industri. Ia dianggap sebagai umpan yang dapat menarik para konsumen pria untuk membeli produk, atas dasar seksualitas. Anehnya tidak ada kesadaran dan tekad perlawanan untuk melepaskan perempuan dari tragedi kemanusiaan ini. Kalaupun ada kesadaran membangun hidup yang merdeka dan setara antara lelaki dan perempuan, masih jauh panggang dari api.

Mengapa harus Media Budaya?

Dalam media budaya tampil berbagai produk kreatifitas yang membuat masyarakat terbius. Mulai dari anak-anak, hingga orang tua, baik lelaki maupun perempuan, hidupnya terpola dengan tampilan media. Tanpa sadar, gaya hidup yang dipilih hampir dapat dipastikan, tiruan dari tayangan media yang membudaya.

Baik televisi, radio, internet, film atau musik, juga karya sastra seperti novel dan chick lit, menjejali masyarakat dengan nilai-nilai yang tidak pernah dipertanyakan nilai pencerahannya (tanwir), ataupun pembebasannya (tahrir). Masyarakat terlanjur menganggap apa yang dikemas media adalah baik dan sahih. Anggapan mapan ini menghilangkan nalar kritis. Daya kritis terkuasai oleh media untuk memilihkan sesuatu yang tidak dibutuhkan, menjadi hal yang paling dibutuhkan masyarakat. Media menuntunnya berbondong-bondong mencari rujukan, trend setter untuk gaya hidup, lewat tampilan yang disajikan.

Akibatnya, anak-anak sangat lancar menghafal dan menyanyikan lagu dengan tema-tema orang dewasa, seperti buaya darat, selingkuh, dan sebagainya. Budaya kekerasan pun mereka serap untuk dipraktekkan dalam pergaulan. Para remaja dengan percaya diri mengikuti mode yang disaksikan dalam sebuah film. Mereka akan berkecil hati jika tidak bisa mengikuti trend dalam sinetron yang ditonton. Dari sini masyarakat patut khawatir, produk media dapat membahayakan generasinya. Syukur jika informasi yang dibawa ikut mendidik dan mencerdaskan, alih-alih malah menambah masalah sosial seperti kenakalan remaja, penyalahgunaan narkotika, tindak kekerasan, dan perilaku seksual menyimpang, yang telah mencuat pada 1970-an.[2]

Di luar hal negatif yang dibawa, harus diakui media memiliki kemampuan luar biasa untuk menanamkan nilai kepada masyarakat. Dengan kemampuan ini, media budaya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan nilai kesetaraan. Bagaimana hal itu dapat dilakukan?

Munculnya fenomena-fenomena menarik, seperti Indonesian Idol, Akademi Fantasi Indosiar, Mamamia Show, atau kontes pelawak Indonesia, telah menyumbang ide kreatif bagi gerakan budaya untuk kesetaraan. Pementasan Shalawat Kesetaraan yang pernah digagas peserta lokalatih Rahima mengenai “Islam dan Isu-isu kesetaraan” di Jember tahun 2001, adalah salah satu upaya kreatif tersebut. Film Shalawat Kesetaraan Rahima ini menjadi lebih inovatif, ketika digabung dengan budaya lokal seperti gamelan Cirebonan, atau diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda, Madura, Jawa yang dinyanyikan di tiap pengajian. Perpaduan dengan warna musik daerah membuat Shalawat Kesetaraan akrab di telinga publik, dan layak ditampilkan dalam seminar, atau dipopulerkan dengan festival.

Melalui film, Rifka Annisa sebuah lembaga swadaya yang berkonsentrasi pada advokasi perempuan di Yogyakarta, telah lama menggunakan media ini. Dalam tajuk Untuk Perempuan di tahun 2005, Rifka meluncurkan film berdasarkan kisah nyata tentang ketertindasan perempuan. Langkah Rifka diharapkan dapat mendobrak kemapanan berpikir di masyarakat, yang membiarkan ketertindasan perempuan sebagai hal yang bukan ketertindasan. Lebih dari itu, pemilihan media film dimaksudkan untuk memudahkan menyebarkan pemahaman bahwa kekerasan terhadap perempuan harus segera dihentikan. Karena pada dasarnya pesan yang disampaikan melalui audio-visual, lebih mudah dipahami isinya.

Sebagai gerakan budaya untuk kesetaraan, yang terpenting lagi warna perfilman yang diproduksi di Indonesia tidak melulu bias perempuan. Diakui atau tidak, dalam film banyak sekali kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan. Mereka selalu digambarkan sebagai obyek dan laki-laki sebagai subyek. Perempuan pasif dan laki-laki aktif. Laki-laki selalu diidentikkan dengan ‘produksi’ (kaum pekerja, pabrik, teknologi, manajemen), sedang perempuan identik dengan ‘konsumsi’ (belanja, mal, dapur, kosmetik, dan kecantikan).[3]

Layaknya film, seni pertunjukan drama, komedi, teater, maupun seni tari, kepopuleran dan keunikannya dalam bertutur, dapat digunakan pula untuk membangun kesetaraan. Sekalipun telah terjadi bias kesetaraan, jenis kesenian ini dapat diolah menjadi pementasan yang peka terhadap perempuan (baca: Kesetaraan).

Media Budaya dalam Islam

Dalam doktrin tauhid, prinsip kemerdekaan dan persamaan berarti pula kesetaraan manusia secara universal. Semua manusia adalah setara di hadapan Tuhan. Muhammad saw. pada 14 abad lalu, memberikan satu pernyataan menakjubkan dalam hal kesetaraan.[4]

“Hai manusia, Kami jadikan kamu laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antaramu adalah yang paling bertakwa”. (Q.S.al Hujurat, 13)

Dalam ayat-ayat lain, doktrin kemerdekaan, persamaan, keadilan, dan kesetaraan menjadi prinsip yang harus ditegakkan dalam tatanan hidup manusia, baik dalam tataran personal, keluarga maupun sosial. Segala hal yang menghalangi dan berpotensi merusak nilai-nilai tersebut akan berhadapan dengan Islam. Karena Islam adalah agama yang mengutamakan keadilan (al-‘adalah), kesederajatan (al-musawah), persaudaraan (al-mu’akhah), toleransi (al-tasamuh), dan kasih sayang (al-rahmah). Nilai-nilai ini menjadi tema sentral dalam perjuangan Islam yang harus di sebarluaskan.[5]

Dalam menyebarluaskan nilai-nilai Islam, khususnya nilai kesetaraan inilah, niscaya dibutuhkan sebuah media budaya yang fasih dalam berbagi pemahaman di tengah masyarakat yang beragam.

Dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia, gagasan tentang penggunaan media budaya untuk memperjuangkan perubahan bukanlah hal yang baru. Masa awal pengembangan Islam di Indonesia, para ulama memanfaatkan kepopuleran dan nilai-nilai simbolik budaya untuk menyebarkan ajaran agama. Misalnya media wayang kulit di Jawa, wayang golek Sunda, sastra, syair dan lagu-lagu dengan iringan musik gamelan.[6]

Begitu dahsyatnya pengaruh kebudayaan, melalui hikayat dan syair, masyarakat Aceh turut menanamkan nilai-nilai. Sehingga tak heran di sana terdapat “Hikayat Perang Sabi” (Perang Sabil-Red.) yang sanggup menggerakkan semangat jihad. Hikayat perang Sabi ini dijadikan masyarakat Aceh sebagai ruh untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah.

Berbeda dengan sastra Melayu yang mengenal hikayat sebagai prosa, dalam sastra Aceh, hikayat adalah puisi di luar jenis pantun, yang berisi kisah dan nasib. Hikayat ini tidak sekedar cerita fiksi, namun berisi pula butir-butir ajaran moral. Masyarakat Aceh menggunakannya sebagai hiburan utama yang mendidik.[7]

Terkait budaya pewayangan, Sunan Kalijaga telah memadukan dakwahnya dengan seni budaya yang mengakar di masyarakat ini. Kisahnya tak pernah padam di kalangan masyarakat pesisir utara Jawa Tengah, hingga Cirebon. Cara berdakwah yang digunakan, dianggap berbeda dengan metode para Wali yang lain.

Tidak hanya wayang, gamelan, dan tembang, dalam catatan Babad Tanah Jawi, Sunan Kalijaga juga menggunakan ukir, dan batik yang sangat populer pada masa itu untuk berdakwah. Babad dan Serat juga mencatatnya sebagai penggubah beberapa tembang, di antaranya Dandanggula Semarangan, sebuah paduan melodi Arab dan Jawa. Tembang lain adalah Ilirilir, meski ada yang menyebutnya sebagai karya Sunan Bonang. Tafsir dalam syair lagu ini sarat dengan nilai dakwah. Misalnya ”Tak ijo royo-royo dak sengguh penganten anyar”. Ungkapan ”ijo royo-royo” bermakna hijau, lambang Islam. Sedangkan Islam, sebagai nilai baru, diumpamakan ”penganten anyar”, alias pengantin baru.

Dalam seni gamelan, Sunan Kalijaga meninggalkan alat-alat gamelan yang diberi nama “Kanjeng Kyai Nagawilaga” dan “Kanjeng Kyai Guntur Madu”. Gamelan itu tersimpan di Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta, yang dikenal sebagai “gamelan Sekaten”.

Seiring maraknya peringatan Maulid Nabi Muhammad saw., gamelan Sekaten digunakan untuk mengawal jalannya upacara. Oleh masyarakat Solo dan Yogyakarta kebiasaan ini dikenal sebagai “Perayaan Sekaten”. Dari berbagai surau dan mushalla di kampung-kampung biasanya dilantunkan “Shalawat” sebagai puji-pujian atas pribadi Nabi saw. yang saleh.

Karya Sunan Kalijaga yang juga menonjol adalah wayang kulit. Sejarah menyebut, wayang yang digemari masyarakat sebelum kehadirannya adalah wayang beber. Wayang jenis ini sebatas kertas yang bergambar kisah pewayangan. Sedang wayang kulit, tiap tokohnya dibuat gambar dan disungging di atas kulit lembu.

Cerita dari mulut ke mulut menyebut, Sunan Kalijaga juga piawai mendalang. Di wilayah Pajajaran, ia lebih dikenal sebagai Ki Dalang Sida Brangti. Bila sedang mendalang di kawasan Tegal, dirinya berganti nama menjadi Ki Dalang Bengkok. Ketika mendalang itulah Sang Wali menyisipkan dakwahnya. Lakon yang dimainkan tak lagi bersumber dari kisah Ramayana dan Mahabarata. Ia mengangkat kisah-kisah yang terkenal dengan cerita ”Dewa Ruci”, ”Jimat Kalimasada”, dan ”Petruk Dadi Ratu”. Dewa Ruci ditafsirkan sebagai kisah Nabi Khidzir. Sedang Jimat Kalimasada tak lain perlambang dari kalimat Syahadat.[8]

Dalam kisah-kisah perang kebaikan melawan kejahatan inilah, Sunan Kalijaga menyisipkan ajaran tauhid Jimat Kalimasada. Kata Jimat sendiri berarti senjata yang ampuh. Sedang Kalimasada atau “Kalimah Syahadat”, berisi pengesaan Tuhan, Allah swt. dan pengakuan terhadap Muhammad saw. sebagai Nabi dan utusan-Nya.

Dalam perkembangannya, legenda Jimat Kalimasada tidak sekedar dongeng antara yang baik melawan kebatilan. Masyarakat berbondong-bondong meyakini bahwa untuk mencapai kebaikan dan kesalehan hidup, mereka harus meneguhkan “Kalimat Syahadat” dalam sanubarinya.

Inilah upaya penanaman nilai yang dilakukan Sang Wali dengan begitu arifnya, melalui media budaya yang menyentuh umat. Bahkan kebiasan kenduri pun jadi sarana syiarnya. Sunan Kalijaga mengganti puja-puji dalam sesaji masyarakat dengan doa dan bacaan kitab suci Alquran.

Alquran sendiri di dalam menyampaikan pesan Islam menggunakan media sastrawi. Oleh Nabi Muhammad saw. pesan yang dibawa ini mampu memberikan pencerahan bagi kehidupan masyarakat Arab. Dengan bahasa budaya setempat, Alquran memberi tuntunan untuk menghargai perempuan. Sehingga perempuan terangkat derajatnya dan disetarakan dengan kaum lelaki.

Penyampaian pesan dengan media sastrawi dalam Alquran, telah dijadikan ‘ibrah bagi para Wali dan ulama untuk menyampaikan pesan kemanusiaan. Bahasa satra yang indah digubah menjadi lagu, nyanyian, syair, dan puisi. Dalam masyarakat Indonesia, upaya ini melahirkan karya-karya seperti Shalawat Barzanji dan Qasidah Burdah, yang mengisahkan perjalanan dan keteladan Muhammad saw.

Di masa kini, ada pula Nasyid yang awalnya berkembang sebagai pembangkit semangat juang para mujahid. Nasyid ini digunakan pula sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Akhir-akhir ini musik yang hanya menggunakan alat duff (sejenis rebana) tersebut, juga dapat digunakan sebagai media untuk menyebarkan nilai keadilan dan kesetaraan.

Di Malaysia musik ini melahirkan grup-grup terkenal semisal Raihan, dengan album “Puji-pujian”. Kabarnya Raihan, dibanding dengan grup Nasyid lain, ia paling terkenal di seluruh dunia. Bahkan dibanding dengan Yusuf Islam, yang dulu bernama “Cat Steven” asal Inggris, Raihan lebih ngetop. Ia satu-satunya grup Nasyid yang tur keliling dunia dan pernah pentas di hadapan Ratu Inggris.[9]

Dari uraian di atas, nampak bahwa Islam kaya akan media budaya. Sayang, penggunaan media tradisi mulai ditinggalkan, dan pemanfaatan media masa kini belum banyak dilakukan. Padahal media-media ini sangat efektif untuk strategi pengembangan ide-ide Islam, termasuk kesetaraan. Karena selain dianggap memiliki visi ke depan, media budaya pada dasarnya memiliki kemampuan menyentuh seluruh dimensi cara pandang, sikap hidup, dan aktualisasi kehidupan umat.

Perempuan dan Media Budaya

Produk media budaya oleh kaum perempuan di Indonesia telah ramai untuk menyuarakan kesetaraan. Sayangnya hasil kreatifitas tersebut dinikmati oleh kaum perempuan saja. Aspirasi yang disampaikan tidak terbaca oleh kaum lelaki sebagai partner; kawan penyeimbang untuk membangun hidup yang setara.

Di ranah cyber, internet, siapa saja boleh bicara apapun mengenai kebudayaan, dan melemparkan keluh-kesahnya terhadap diskriminasi yang ada di masyarakat. Semua orang bisa ikut membaca, tidak hanya perempuan namun juga lelaki. Mereka bisa ikut aktif dalam diskusi yang diangkat. Sayangnya, komputer, internet, dan media cyber, adalah barang luks untuk lebih dari 90% masyarakat Indonesia, utamanya perempuan.

Meski demikian, bukan berarti tidak ada jalan keluar guna membangun kesadaran perempuan, untuk melawan ketimpangan. Debra H. Yatim direktur Komunikasi untuk Seni (Komseni), mencontohkan apa yang dilakukan oleh seorang Umi Lasmina, mencetak buku puisi mini dengan dana sendiri dan menjualnya di toko buku ternama. Bagi perempuan hal itu sudah merupakan upaya yang patut dihargai untuk membangun hidup yang setara. Selain itu, penerbitan majalah kebudayaan oleh kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam pandangan Debra, juga menjadi salah satu pilihan. Pertunjukan seni budaya dengan tema kesetaraan, juga merupakan salah satu solusi. Sekalipun sebatas pementasan pada komunitas kecil masyarakat tingkat rukun tetangga (RT) atau rukun warga (RW).

Begitu pula yang dilakukan semua anak SMA Jakarta terhadap tarian Saman yang berasal dari Aceh, adalah satu gerakan budaya yang sensitif terhadap perempuan. Untuk Tari Saman versi mereka, perempuan digambarkan sebagai sosok yang aktif, ceria, dan sangat terlibat di dalam masyarakat.

Menurut Debra, meskipun terkesan sedikit kontroversial, fenomena tari Saman untuk anak perempuan ini menarik. Sebab pemahaman tentang kesetaraan telah diberikan sejak dini. Tari Saman di Kota Serambi Mekah merupakan tarian untuk kaum lelaki. Sedang untuk kaum perempuan bernama Tari Ratoh Duek. Bisa jadi, orang di Aceh akan kurang nyaman karena merasa adatnya dilanggar, dan kebudayaannya didobrak. Sebab secara tidak sengaja, perempuan menggantikan ranah lelaki, dan menjadikannya sesuatu yang khas perempuan. Meski demikian, masyarakat tidak akan berhenti menanggap para gadis remaja itu untuk meramaikan perhelatan yang membutuhkan penampilan kesenian.

Upaya menarik lain yang dilakukan perempuan dalam membangun kesetaraan, adalah pentas Guyon Maton. Pentas komedi ini digagas oleh Nyai Hj. Shinto Nabilah di lingkungan Pondok Pesantren (PP) Al-Hidayat Magelang. Sekalipun hanya sekedar pementasan drama guyonan (bercanda-Red.), namun isi pertunjukan sarat dengan nilai kesetaraan. Lebih unik lagi, pesan-pesan yang disampaikan disusun secara Islami. Sehingga apa yang tadinya menjadi stereotype, bahwa isu-isu tentang kesetaraan perempuan akan susah ditanamkan lewat pendekatan agama, itu harus dikaji ulang (baca: itu tidak benar).

Gagasan cantik Nia Dinata dalam film “Berbagi Suami” yang diluncurkan tahun 2006 lalu, pun menunjukkan kekuatan perempuan membangun kesadaran dan mengkritisi fenomena sosial melalui media budaya. Film yang mengisahkan tiga perempuan dari tiga kelas sosial, ekonomi dan suku yang berbeda ini membeberkan dan menentang kehidupan poligami yang banyak merugikan perempuan. Keadaan sehat sejahtera secara fisik, mental dan sosial yang utuh, tidak terpenuhi. Bahkan bahaya Inveksi Menular Seksual (IMS) juga menggrogoti fungsi reproduksi mereka. Sekalipun dalam hal ini tidak banyak diungkap, Nia sebagai sutradara, telah ‘berbuat’ untuk menyuarakan perempuan.

Kreatifitas-kreatifitas perempuan ini penting untuk dicatat. Bahwa dalam mengusung kesetaraan dan hak-hak perempuan, perlu menggunakan berbagai media. Dan ini tidak terbatas oleh media tradisional ataupun kontemporer.

Membangun Ikhtiar Baru

Apa yang terbayangkan mengenai jalan keluar untuk membangun kesetaraan, menuntut semua untuk lebih kreatif dan mampu menghadirkan sesuatu yang lain, yang mudah diterima masyarakat. Dari sini diharapkan akan membawa perubahan. Namun perubahan ini nampaknya tak terjadi secara alamiah, melainkan hasil upaya yang harus dilakukan dengan kerja keras.

Muslim Indonesia telah memiliki budaya tradisi yang dapat dimodivikasi untuk sesuatu yang baik dan sahih ini (baca: ide kesetaraan). Para ulama telah memberi teladan dengan menggunakan wayang, gamelan, syair, puisi, dan tembang shalawatan. Kesenian ini terbukti dapat membantu menyampaikan pesan agama maupun kemanusiaan, dengan lebih meresap dan mudah diterima oleh masyarakat umum.

Oleh karena itu, ke depan kreatifitas seni yang menghadirkan nuansa tradisi Islam lokal seperti shalawatan, rebana, marawis, qasidah, dan nasyid, juga penting untuk menyuarakan kesetaraan. Begitu juga dengan film, teater, komedi panggung, atau karya-karya sastra lain.

Untuk menentukan media mana yang harus digunakan, nampaknya telah tersedia ‘bak’ ruang kontestasi (perlombaan) media. Dalam kontestasi ini tentu siapapun tidak ingin terlewatkan ambil bagian, termasuk perempuan. Karena ketertinggalan itu hanya akan membuat perempuan semakin tergerus oleh ketertindasan di mana-mana. ‘Terserah’ hendak menggunakan media budaya yang mana. Satu kata, kesetaraan harus tetap disebarluaskan. (Hafidzoh)

Catatan:


[1] Moh. Sobary, Perempuan dalam Budaya: Dominasi Simbol dan Aktual Kaum Lelaki, dalam Menakar Harga Perempuan, 1999, hlm. 83

[2] Moh. Sobary, Perempuan dalam Budaya: Dominasi Simbol dan Aktual Kaum Lelaki, dalam Wanita dan Media, 1998, hlm. 19

[3] Yasraf Amir Piliang, Masih adakah ‘Aura’ Wanita Di Balik ‘Euphoria’ Media, dalam Wanita dan Media, 1998, hlm. Xiii

[4] KH. Husein Muhammad, Islam Agama Ramah Perempuan; Pembelaan Kiai Pesantren, 2004, hlm. 9

[5] Swara Rahima No. 17 Th. VI Februari 2006, hlm. 9

[6] Mafred Oepen, Media Rakyat, Komunikasi Pengembangan Masyarakat, 1988, hlm. 86

[7] http://www.kaskus.us/archive/index.php/t-576798.html, Si-Pandir, Jakarta 25 Nopember 2005 (sumber : Sastra Perang – Sebuah Pembicaraan mengenai Hikayat Perang Sabil, yang ditulis oleh Prof. DR. Ibrahim Alfian. MA, dan diterbitkan oleh Penerbit Balai Pustaka)

[9] http://www.bogornasheedcentre.com, Tertanggal Jum’at 22 Februari 2008


Responses

  1. Dear Hafidz, baru kali ini saya mengunjungi blog ini, maklum, buat surfing harus mencari waktu yang agak senggang, semoga sukses ya….

    Ema

  2. sungguh blog yang
    lengkap…:)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: