Oleh: hafidzohalmawaliy | Maret 25, 2009

Perempuan dan Tradisi Khitanan : ”Islam tidak perkenalkan sunat perempuan”

Dr. Hamim Ilyas, lelaki kelahiran Klaten, 1 April 1961 ini adalah seorang pengajar sekaligus aktivis untuk keadilan perempuan. Ia memulai kiprahnya sebagai dosen di Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, sejak tahun 1987 hingga sekarang. Dosen yang kini menjabat Asisten Direktur Program Pascasarjana UIN ini, juga pernah mengajar Magister Studi Kebijakan di Universitas Gajah Mada (UGM) tahun 2004. Ia aktif pula di Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam Pengurus Pusat Muhammadiyah. Selain itu, Hamim juga tercatat sebagai Ahli Kesehatan Reproduksi PKBI Pusat. Pemikiran-pemikirannya tentang Gender dan Islam telah banyak diterbitkan, seperti bukunya yang berjudul ”Keterlibatan Pria Muslim dalam Kesehatan Reroduksi” tahun 2006. Dalam wawancaranya bersama Swara Rahima tentang sunat (khitan) perempuan, ia mengungkapkan, bahwa sunat perempuan banyak mengganggu aspek kesehatan reproduksi baik fisik maupun psikologi perempuan. Hamim juga menegaskan, dorongan seksual perempuan tidaklah ditentukan dari disunat atau tidaknya mereka. Lalu mengapa perempuan masih saja disunat? Bagaimana pula komentar tokoh kita ini tentang sunat perempuan dalam pandangan Islam? Simak hasil wawancara berikut ini.

Hamim Ilyas

”Islam tidak perkenalkan sunat perempuan”

Bagaimana sesungguhnya asal-usul khitan atau sunat perempuan?

Asal-usul sunat perempuan tidak diketahui secara pasti dalam sejarah. Dalam tradisi Islam yang populer hanya diketahui asal-usul khitan laki-laki yang berasal dari Nabi Ibrahim as. yang melakukan khitan pada usia delapan puluh tahun.

Apakah sunat perempuan ini juga berasal dari Nabi Ibrahim as.?

Tidak ada informasi bahwa sunat perempuan juga berasal dari Nabi Ibrahim as. Tapi dari sejarah telah diketahui, selama ribuan tahun sunat perempuan lazim dilakukan di lembah Sungai Nil, yakni Mesir, Sudan dan Ethiopia, serta secara terbatas pada masyarakat Arab, Rusia dan Amerika Latin.

Apa alasan yang mendasari praktik sunat perempuan di masa-masa awal?

Menurut saya, alasan sunat perempuan pada masa-masa awal adalah moral. Di kalangan masyarakat yang mempraktikkannya ada kepercayaan, jika organ vital bagian luar (external genital) perempuan dikhitan, maka hal itu dapat menenangkan nafsu seksual dan dapat membantu perempuan untuk mudah mengendalikannya, sehingga mereka tetap dapat menjaga kehormatan dirinya sampai menikah.

Sebelum Islam datang, adakah praktik sunat perempuan dalam agama Yahudi dan Nasrani?

Sunat perempuan dilihat dari praktiknya yang luas sebelum Islam merupakan fenomena lintas budaya. Sebelum kedatangan Islam, sunat perempuan telah ada di kalangan umat Yahudi dan Kristen, terutama Kristen keturunan Yahudi. Mereka mempraktikkannya karena meyakini sebagai ajaran agama yang berasal dari Nabi Ibrahim as. yang dikenal sebagai Bapa Kaum Beriman.

Seperti apakah bentuk praktik sunat perempuan di masa Yahudi, Jahiliyah, hingga masa Nabi Muhammad saw. sendiri?

Sunat perempuan di masa lalu dilaksanakan mulai dari bentuknya yang paling ringan sampai yang ekstrim. Sunat perempuan yang paling ringan dilaksanakan dengan mengambil bagian yang sangat kecil dari pinggir labia minora (bibir kemaluan kecil). Sedangkan bentuk sunat yang ekstrim dilaksanakan dengan menghilangkan labia minora dan kelentit (klitoris), lalu menjahit pinggiran kulitnya dengan menyisakan lubang kecil saja untuk jalan air kencing dan jalan keluar-masuknya penis ketika bersenggama. Bentuk yang ekstrim ini terutama terjadi di lembah Sungai Nil, Sudan.

Bagaimana sebenarnya Islam di masa Rasulullah saw. memandang praktik ini?

Islam di masa Rasulullah tidak memperkenalkan praktik sunat perempuan. Ketika Nabi saw. mengetahui praktik itu ada di satu kabilah, maka Nabi berpesan pada dukun sunat perempuan bernama Ummi Rafi’ah yang selalu diminta para orang tua mengkhitan anak perempuannya, supaya melakukannya sesedikit mungkin dan tidak berlebihan.

Apakah sunat perempuan itu ajaran agama atau sebatas tradisi?

Sunat perempuan pada mulanya hanya merupakan tradisi masyarakat, bukan ajaran agama. Tapi ketika agama berjumpa dengan tradisi itu, maka kemudian ia memberi respon.

Respon agama yang mengakomodir tradisi itu kemudian menjadi agama. Ketika agama itu tersebar ke wilayah lain di luar masyarakat yang mempraktikkan sunat perempuan tersebut, maka ajaran yang semula hanya respon itu juga ikut terbawa.

Bagaimana dengan dasar Alquran dan Hadis tentang sunat perempuan?

Dalam Alquran tidak ada ayat yang langsung menunjuk pada khitan, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Ayat yang biasanya dijadikan landasan adalah surat An-Nahl ayat 123 yang memerintahkan Nabi Muhammad saw. mengikuti millah Ibrahim as. sebagai orang yang condong kepada kebenaran (hanif).

Adapun hadis yang dihubungkan dengan sunat perempuan adalah hadis-hadis yang menjelaskan bahwa fitrah itu ada lima, di antaranya adalah khitan, kewajiban mandi junub (besar) jika dua khitan (alat kelamin) bertemu, dan saran Nabi kepada Ummi Rafi’ah tersebut.

Bagaimana dengan perdebatan pendapat Madzahibul Arba’ah terkait hal ini?

Ada perbedaan pandangan di kalangan mazhab empat tentang sunat perempuan. Mazhab Hanafi dan Maliki berpandangan, sunat perempuan itu status hukumnya hanya mustahabb, di bawah sunah, atau direkomendasikan (dianjurkan). Sedang mazhab Syafi’i berpandangan, sunat perempuan itu wajib. Adapun dalam mazhab Hanbali, ada yang menyatakan wajib dan ada yang menyatakan tidak wajib (Ibnu Qudamah).

Apa alasan yang melandasi masing-masing golongan dari mazhab tersebut?

Alasan yang digunakan mazhab-mazhab itu adalah alasan-alasan yang berhubungan dengan hadis. Mazhab yang berpandangan tiga hadis di atas tidak menunjukkan kewajiban, maka menyatakan sunat perempuan tidak wajib. Sebaliknya mazhab atau ulama yang berpandangan hadis-hadis itu menunjukkan kewajiban, maka menyatakan sunat perempuan wajib hukumnya.

Di Indonesia sendiri, bagaimana asal-usul sunat perempuan di kalangan muslim?

Mazhab yang dominan di Indonesia adalah Syafi’i. Sebab itu asal-usul sunat perempuan di kalangan muslim Indonesia adalah ajaran mazhab Syafi’i yang mewajibkan sunat perempuan.

Adakah dalam praktik sunat perempuan ini, alasan-alasan dari aspek ekonomi atau persoalan dominasi ’tafsir laki-laki’ atas perempuan?

Dilihat dari mazhab yang dominan, tidak ada pertimbangan ekonomi dalam praktik sunat perempuan di Indonesia. Praktik itu murni agama, tapi tidak tertutup kemungkinan adanya pertimbangan ekonomi dari yang mempraktikkan, khususnya pemberi jasa sunat perempuan yang bisa jadi memperoleh keuntungan ekonomi dari jasa sunat yang dilakukannya.

Menurut saya, fiqh dikembangkan dari dalil-dalil terperinci dalam Alquran dan hadis. Siapapun, laki-laki atau perempuan, kalau berpandangan hadis-hadis di atas merupakan dalil wajibnya sunat perempuan, pasti mereka berpendapat sunat perempuan itu wajib. Jadi persoalan dalam fiqh ini adalah epistemologi, bukan gender.

Mengapa di Indonesia ada nuansa Islamlah yang mengajarkan sunat perempuan ini?

Di Indonesia, Islam merupakan agama yang dianut mayoritas penduduknya. Berhubung yang dominan adalah mazhab Syafi’i yang mewajibkan sunat sehingga umumnya mereka mempraktikkannya, maka wajar jika ada kesan sunat perempuan itu identik dengan Islam. Tapi sebenarnya tidak seperti itu. Dilihat dari praktik sunat perempuan di Indonesia, ia tidak diajarkan Islam saja, tapi juga oleh budaya-budaya etnis atau suku-suku di Indonesia.

Di kawasan tertentu di Indonesia, ada praktik sunat perempuan dengan menaruh jagung atau gabah di kemaluan anak gadis, kemudian seekor ayam jantan diarahkan untuk mematuknya (Jawa: nothol). Ini jelas budaya etnis, bukan ajaran Islam.

Lebih jauh, agama beserta Ulama terkesan melegitimasi praktik sunat perempuan ini. Apa pendapat Anda?

Sunat perempuan telah menjadi adat, sehingga ulama membiarkannya. Dalam pengamalan agama ada adagium al-‘adatu muhakkamatun (adat itu dijadikan hukum) dan custom is king (adat itu raja). Ulama pada umumnya berbuat dan berpikir sejalan dengan kehidupan masyarakatnya.

Kaitannya dengan sunat perempuan, mereka ikut melestarikan karena memandangnya sebagai agama yang diperkuat dengan stereotipe perempuan sebagai penggoda atau fitnah. Mereka memandang sunat perempuan berguna mengendalikan potensi penggoda dari perempuan.

Sesungguhnya untuk apa ”what is the point” atau apa manfaat sunat perempuan ini?

Manfaat sunat perempuan tak lebih dari sekedar ritual adat yang bermanfaat untuk integrasi sosial. Lalu bagi yang meyakininya sebagai ajaran agama, sunat perempuan dapat memberi manfaat spiritual untuk menenteramkan hati karena telah melaksanakan perintah Tuhan.

Atau dari sisi kemaslahatan, seperti apakah kemasalahatan sunat perempuan?

Tak ada kemaslahatan dari sunat perempuan, selain integrasi sosial dan kepuasan spiritual itu.

Bagaimana dari sisi madharatnya?

Madharatnya membayakan kesehatan perempuan secara umum dan secara reproduktif, dan melestarikan pencitraan negatif terhadap perempuan yang sangat merugikan baginya.

Bagaimana sunat perempuan ini dari aspek gender, seksualitas, kesehatan reproduksi?

Dalam praktiknya selama ini sunat perempuan telah mengakibatkan ketidakadilan gender terhadap perempuan berupa stereotipe dan kekerasan yang pada gilirannya pasti menimbulkan marginalisasi. Selain itu sunat perempuan melestarikan mitos untuk mengendalikan seksualitas perempuan. Karena mitos, ya tidak terbukti.

Dorongan seksual perempuan tidak ditentukan dari disunat atau tidaknya mereka, tapi karena faktor-faktor psikologis dan hormonal. Selain itu sunat perempuan juga dapat menghambat akses kesehatan reproduksi perempuan mulai dari yang bersifat sosial berupa ketiadaan akses informasi sampai pada yang berhubungan dengan fisik dan psikologis.

Apakah menurut Anda, sunat perempuan melanggar hak-hak dasar perempuan?

Kesehatan reproduksi termasuk kesehatan yang menjadi bagian dari hak-hak dasar manusia. Sunat perempuan yang dilakukan secara ekstrim dan tidak hyginis, tentu melanggar hak-hak itu. Adapun yang dilakukan secara simbolik dengan mengusapkan kunyit pada klitoris misalnya, tidak melanggar hak itu sepanjang tidak disertasi asumsi stereotiping perempuan.

Bagaimana sebaiknya umat menyikapi ”tradisi” sunat perempuan ini?

Umat harus cerdas menyikapi tradisi yang telah lama berkembang. Ilmu yang berkembang saat ini dapat membantu untuk memiliki sikap itu. Dalam beragama, umat tidak bisa meninggalkan ilmu. Sunat perempuan oleh umat jangan hanya dilihat secara teologis, tapi juga secara ilmiah dengan memperhatikan kenyataan bagaimana obyektifnya sunat perempuan sekarang ini. Apabila jelas menimbulkan madharat dan ketidakadilan, ya harus ditinggalkan.

Lalu menurut Anda, bagaimana sebaiknya pemerintah sebagai umara bersikap?

Pemerintah harus melindungi hak-hak warga negaranya. Sunat perempuan yang menjadi praktik kekerasan terhadapnya harus dihentikan. Di Indonesia untuk menghentikan praktik itu tidak cukup hanya dengan pendekatan politik dan hukum, tapi juga pendekatan budaya. Pemerintah perlu didorong untuk melakukan itu semua dengan terlebih dulu ditimbulkan kesadaran bahwa itu penting dan jangan hanya dipandang sebagai sesuatu yang remeh.

Apa harapan Anda pribadi terkait permasalahan ini?

Sesuai dengan Islam humanitarian yang saya anut, paham dan praktik keagamaan yang tidak menghargai kemanusiaan harus dihindari oleh penganut agama apapun. Sunat perempuan yang merendahkan martabatnya harus dibuang jauh-jauh. [ ] Hafidzoh Almawaliy


Responses

  1. YUPS…
    Saya sependapat dengan Anda
    bahkan saya membaca realita tentang sunat perempuan di negara2 Islam seperti di Timur Tengah yang menurut saya sangat tidak manusiawi, mereka menganggap itu adalah syariah tetapi dalam praktiknya mereka sangat jauh melencong dari syariah, dan terkesan hanya untuk merendahkan perempuan, yang paling kejam mereka mengatasnamakan Islam.
    Dan menurut saya hanya mereka yang BODOH dan PRIMITIF yang melakukan hal tersebut, mereka yang menutup rapat2 mata dan telinga mereka demi mendengar kebaikan.
    Saya tidak begitu mengerti tentang hukum syariah tapi saya mau belajar dan tidak serta merta melakukan apa yang tidak saya ketahui lebih dalam meskipun itu adalah tradisi.
    Dan saya sangat geram, melihat orang2 yang ‘Bodoh tapi sok Pintar’, yang selalu membenarkan apapun tanpa mempertimbangkan segala sesuatunya.
    Apalagi dengan orang yang ‘Pintar tapi Bodoh’ yang sengaja menarik diri dari kebenaran dan tidak pernah berjalan untuk mencari kebenaran, atau lebih buruk mereka tahu kebenaran itu tapi karena keegoisan mereka hanya menyimpan kebenaran itu untuk diri mereka sendiri yang tidak pernah mereka praktikkan hanya karena alasan “TRADISI” walaupun sangat membahayakan kelangsungan umat.

    • kalo anda menganggap orang yang melakukan sunat kepada perempuan adalah BODOH atau PRIMITIF, berarti anda menganggap ISLAM BODOH dan PRIMITIF. kalo sunat terhadap perempuan mendatangkan mudhorot, Islam yang akan pertama kali melarangnya. sekarang banyak orang2 islam yang gak jelas islamnya. begitu org yahudi melarang sunat terhadap perempuan dengan dalil perendahan martabat dan penganiayaan perempuan langsung diaminin. kalo rosul aja menganjurkan kenapa kita sebagai muslim menolak? kalo belum tahu fungsinya jangan main kecam… otak manusia ada keterbatasan, contohnya sampai sekarang aja usus buntu belum ada yang tahu fungsinya. alangkah bijaknya kalo kita tidak cepat terprovokasi dengan artikel yang orang islam yang sering mengamini orang yahudi!

  2. sunat perempuan itu cuma, labia minora nya yg di potong.. yg bentuk nya seperti jengger ayam..
    jadi bukan klitorisnya.. kalo klit yg di potong itu salah besar…

    silahkan lihat film dokumentar ini

  3. Bukan Islam itu bodoh/primitif. Sunat pada perempuan kan bukan dibawa oleh Islam. Nabi S.A.W, yg mengetahui praktik tersebut hanya berpesan agar jangan memotong terlalu banyak. Tp bukan berarti pesan tersebut diartikan sebagai ajaran syariah. Selain itu, “jangan memotong terlalu banyak”… apakah bisa ada jaminan brp banyak yg terpotong??? Krn, salah-salah bisa terlau banyak akhirnya mengganggu fungsi organ genetical tsb. Tidak sprt pria, dimana bgian kulit yg harus dipotong memang sudah tampak jelas.
    Yang jadi alasan knp, skrg prktik ini lebih baik dihentikan, adalah alasan keamanan kesehatan wanita. Kalau semua msy mau menyunat pada dokter, sih gpp. Tp kalau masih ke dukun??? Ini yang bahaya.
    Jadi tolonglah… para pria juga mau mengerti kondisi wanita. Penyunatan pda perempuan mengandung resiko lebih banyak dibandingkan trhdp pria. Terutama terhadap fungsi genitalnya, dan bahkan Nabi S.A.W pun mengatakan akan memperngaruhi seksualitas pasangan. Jadi jangan cuma memikirkan kepuasan bagi pria, tp juga wanita sbg pasangannya.
    Islam adalah membawa kebaikan bukan, jadi mana yg lebih baik bagi umat? terutama muslimah?

  4. untuk ericool, saya sedikit menanggapi. pada sunat perempuan yang dipraktekkan sekarang yang dipotong adalah klitoris atau kelentit yang berukuran sebesar jengger ayam yang terletak persis di bagian ujung sebelah atas vulva (yaitu di atas lubang kencing) dan itupun hanya sedikit kira2 seujung beras sebagai syarat saja karena Rasulullah SAW juga menyarankan mengambil sesedikit mungkin.
    jadi bukan labia minora, labia minora itu terletak di bagian dalam labia mayora. jadi labia minora itu menutup lubang kencing (urethra) dan lubang vagina.
    keseluruhan alat kelamin perempuan tersebut dikenal sebagai vulva.
    terima kasih atas perhatiannya.

  5. Islam humanitarian ..ini apa sie Maksudnya…
    Kalo saya ISLAM (tanpa humanitarian..)

    ISLAM TELAH SEMPURNA (humanitarian ada dalam itu pa dosen yang terhormat)

    Ya Umat Muslim,…tinggalkanlah UIN. tingalkan kalo masi ada pa Dosen ini di situ. betul..betul..betul

    • keluar dri masalah..

      • justru itu inti masalahnya bos, ISLAM HUMANITARIAN itu ya bukan ISLAM, karena ISLAM ga ada embel2 nya bos. jadi intinya pandangan diatas tidak mewakili umat dan ajaran ISLAM, tapi mewakili umat dan ajaran ISLAM HUMANITARIAN

  6. Saya Islam, tidak dikhitan, anak saya yang perempuan juga tidak. Dan kehidupan Islam serta sexual baik baik saja. jadi, tergantung mahzab apa yg kita yakini. Kalo yg mengatakan wajib, maka mahzab yg mengatakan bukan wajib salah kalo begitu. berarti saling menyalahkan. Saya yakin ada kebenaran yg benar2 dalam Islam ttg khitan perempuan, yg mana itu, Allah Yg Maha Tahu. Suatu saat pasti akan ditunjukkan yg benar. Nah, yg saya yakini saat ini adalah apapun itu TIDAK BOLEH YG BERBENTUK MENYAKITI KAUM PEREMPUAN. APALAGI BAYI ATAU ANAK KECIL, ajaran Nabi SAW selalu benar, tinggal umat aja yg harus meng-explore, harus ilmiah ya. Jangan dikarang2.

    • dalam agama, bukan ilmiah yang dikedepankan, tetapi ketaatan akan apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang.

  7. HUKUM KHITAN BAGI WANITA.

    Pertanyaan.
    Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya :
    “Apakah khitan (sunat) bagi wanita itu hukumnya wajib
    ataukah sunnah yang disukai saja ?”

    Jawaban.
    Telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
    bukan hanya dalam satu hadits, anjuran beliau untuk
    menyunat wanita. Beliau juga memerintahkan wanita yang
    menyunat untuk tidak berlebihan dalam menyunat. Tapi
    dalam masalah ini berbeda antara suatu negeri dengan
    negeri-negeri lainnya. Kadang-kadang dipotong banyak
    dan kadang-kadang hanya dipotong sedikit saja (ini
    biasanya terjadi di negeri-negeri yang berhawa
    dingin). Jadi sekiranya perlu dikhitan dan dipotong,
    lebih baik di potong. Jika tidak, maka tidak usah di
    potong.

    [Fatwa-Fatwa Albani, hal 162-163, Pustaka At-Tauhid]

    Jangan percaya provokasi yahudi… Allohualam

  8. terima kasih, tulisan ini memberi info buat saya, ijin buat dibagi ya.

    oia, tolong font-nya diperbesar donk,,, thx.

  9. [IMG]http://i3.photobucket.com/albums/y69/bolos16/1.jpg[/IMG]

    silahkan disimak

  10. terimakasih atas
    informasinya,,,
    ini memang bahasan yang saya ingin tahu..:)

  11. Para fuqaha berbeda pendapat mengenai hukum khitan menjadi tiga versi pendapat, sebagaimana diuraikan oleh Syaikh Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi dalam kitabnya Ahkamul Jirahah Ath-Thibbiyah wa Al-Atsar al-Mutarabbatu ‘Alaiha, h. 161-162. Ringkasnya sebagai berikut :
    Pertama, khitan hukumnya wajib atas laki-laki dan perempuan. Ini pendapat ulama Syafi’iyah, Hanabilah, dan sebagian Malikiyah. (Imam Nawawi, Al-Majmu’, 1/300; Ibnu Muflih, Al-Mubdi’, 1/103; Ibnu Juzzai, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, h.167).
    Kedua, khitan hukumnya sunnah (tidak wajib) atas laki-laki dan juga perempuan. Ini pendapat ulama Hanafiyah, Imam Malik, Imam Ahmad dalam satu riwayat, dan Imam Syaukani. (Imam Sarakhsi, Al-Mabsuth, 1/156; Ibnu Juzzai, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, h.167; Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 1/85; Imam Syaukani, Nailul Authar, 1/294).
    Ketiga, khitan wajib atas laki-laki, tapi sunnah (tidak wajib) atas perempuan. Ini pendapat Imam Ahmad dalam riwayat lain, sebagian ulama Malikiyah, dan ulama Zhahiriyah. (Ibnu Muflih, Al-Mubdi’, 1/104; An-Nafrawi, Al-Fawakih Ad-Dawani, 1/461, Ibnu Hazm, Al-Muhalla, 2/217).
    Dari uraian di atas, nampak jelas bahwa para fuqaha sepakat khitan bagi perempuan disyariatkan (masyru’) dalam Islam. (Ibnu Hazm, Maratibul Ijma’, 1/157). Memang ada perbedaan pendapat mengenai hukumnya berkisar antara wajib dan sunnah. Tapi tidak ada satu pun fuqaha yang berpendapat hukumnya makruh atau haram, atau dianggap tindakan kriminal yang harus diperangi, seperti klaim kaum kafir dan kaum liberal dewasa ini. (Nida Abu Ahmad, Hukm Al-Islam fi Khitan Al-Banin wa Al-Banat, h. 57; Abu Muhammad, Al-Khitan Syariah Ar-Rahman, h. 16).
    Setelah meneliti dalil-dalilnya, yang kuat (rajih) menurut kami adalah pendapat ketiga, yaitu khitan wajib atas laki-laki, tapi sunnah (tidak wajib) atas perempuan. Imam Ibnu Qudamah menyatakan,”Adapun hukum khitan, hukumnya wajib atas laki-laki dan suatu kemuliaan (makrumah) atas perempuan, tidak wajib atas mereka.” (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 1/141).
    Dalil wajibnya khitan laki-laki, antara lain sabda Nabi SAW kepada seorang laki-laki yang masuk Islam,”Buanglah darimu rambut kekufuran dan berkhitanlah.” (alqi ‘anka sya’ra al-kufr wa [i]khtatin) (HR Abu Dawud. Hadis hasan. Syaikh Al-Albani, Irwa’ul Ghalil, 1/120). Redaksi hadis “berkhitanlah” (ikhtatin) menunjukkan hukum wajib, dengan qarinah (indikasi) kalau laki-laki tidak berkhitan, tak akan sempurna thaharah-nya ketika dia kencing. Padahal thaharah adalah wajib. Imam Ahmad berkata,”Jika seorang laki-laki tidak berkhitan, maka kulit akan menutupi ujung zakar dan tidak bisa bersih apa yang ada di sana.” (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 1/141).
    Mengenai pensyariatan khitan perempuan, dalilnya antara lain, Nabi SAW pernah bersabda kepada para perempuan Anshar,”Hai para perempuan Anshar…hendaklah kamu berkhitan dan janganlah kamu berlebihan dalam memotong.” (HR Al-Bazzar. Hadis sahih. Syaikh Al-Albani, Silsilah Ash-Shahihah, 2/221). Nabi SAW juga pernah bersabda kepada perempuan tukang khitan,”Jika kamu mengkhitan [perempuan], maka hendaklah kamu sisakan dan janganlah kamu berlebihan dalam memotong.” (idza khafadhti fa-asymiy wa laa tanhakiy). (HR Abu Dawud. Hadis sahih. Syaikh Al-Albani, Silsilah Ash-Shahihah, 2/344).
    Bagi yang mewajibkan khitan perempuan, kedua hadis di atas dianggap dalil wajibnya khitan atas perempuan, karena kaidah ushuliyah menetapkan redaksi perintah (amr) menunjukkan hukum wajib (al-ashlu fi al-amr lil al-wujub). (Maryam Hindi, Khitan Al-Inats Baina Ulama Asy-Syariah wa Al-Uthaba, h. 59).
    Namun, kaidah ushuliyah yang lebih sahih, redaksi perintah (amr) hanya menunjukkan tuntutan melakukan perbuatan (al-ashlu fi al-amr li ath-thalab), tidak otomatis menunjukkan hukum wajib. Yang menentukan amr itu menunjukkan wajib atau mandub, adalah qarinah yang menyertai amr tersebut. (Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhsiyah Al-Islamiyah, 3/212).
    Maka dari itu, hadis di atas hanya menunjukkan khitan perempuan adalah sunnah, bukan wajib. Sebab tidak terdapat qarinah yang menunjukkan keharusan melaksanakan perintah (amr) dalam hadis di atas. Tidak adanya qarinah yang menyertai suatu perintah, adalah qarinah bahwa perintah yang ada menunjukkan hukum sunnah (mandub). (Atha bin Khalil, Taisir Al-Wushul ila Al-Ushul, h. 25; M. Husain Abdullah, Al-Wadhih fi Ushul Al-Fiqh, h. 340).
    Kesimpulannya, khitan bagi perempuan hukumnya sunnah, tidak wajib. Wallahu a’lam. (www.konsultasi-islam.com)

  12. Tidak ada mudharat sedikitpun bagi yang melaksanakan syariat Islam, sekarang atau pun nanti sampai hari kiamat. Proses lahirnya bayi ke dunia ini saja harus nya bisa menambah keimanan kita pada sang Kholik yang Maha Mencipta. Sunat pada bayi perempuan memang tidak wajib, tp di sunahkan untuk bisa mengurangi libido yang berlebihan pada si anak nantinya. Sunat pada bayi perempuan yang salah menurut saya adalah caranya. Bukan sunatnya itu sendiri, Menurut saya tidak boleh ada darah (potongan) yang boleh itu di kerik! Wallohualam.

  13. saya ibu dari 3 anak, semuanya perempuan, dan saya menyunatkannya ke dukun sunat pada usia kurang dari sebulan (karena dokter tak mau…) tidak ada yang dipotong kemaluannya hanya (seperti ditusuk sedikit) air sedikit yang keluar… sampai sekarang alhamdulillah mereka baik2 saja. jadi jangan berpikir bahwa sunat perempuan akan dipotong seperti laki2 ( entahlah saya tak pernah melihat laki2 d sunat). saya rasa tidak ada bagian yang hilang dari kemaluan anak saya kecuali cairan yang sedikit itu

  14. yang perlu di salahkan ya yang mengkhitan itu mas bro n mbak sis skalian, harusnya yg mnghitan juga wajib tau ukuran seberapa atau brapa besar yang di khitan. Kalo tidak di khitan itu untuk kita thoharoh (bersuci) agak sulit, cz sisa air mani atau air seni masi tersisa karena terhalang bag yg blom di khitan
    khitan dalam islam itu hanya sebesar ujung rambut
    kalo yg sampai pendarahan atau infeksi ya doktor,bidan atau tukang khitannya itu yang gak ngerti .
    islam itu indah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: