Oleh: hafidzohalmawaliy | Maret 25, 2009

Perempuan dan Pluralisme : ”Semua Keanekaragaman itu Diakui Islam”

Dalam Islam, pembelaan secara aktif terhadap perbedaan terkadang masih dipersoalkan. Bolehkah kita menolong perempuan penganut agama lain yang jadi korban kekerasan dalam rumah tangga? Bolehkah bekerjasama dengan perempuan yang berbeda suku, warna kulit, ras, bahasa, ataupun politik? Bagaimana konsep kemajemukan dapat mempersatukan keragaman realitas kehidupan perempuan ini? Untuk itu Swara Rahima mewawancarai Deputi Direktur International Centre Islam and Pluralism/ICIP (Pusat Kajian Islam Internasional dan Pluralisme), Syafiq Hasyim, beberapa waktu sebelum disahkannya RUU Pornografi menjadi undang-undang. Dari perbincangan itu terungkap realitas perbedaan mengharuskan semua pihak, laki-laki dan perempuan mengakui dan berperan aktif dalam mengedepankan kemajemukan. Dengan tegas aktivis kelahiran Jepara, 18 April 1971 ini menuntut pula tanggungjawab semua pihak ikut membela eksistensi perbedaan itu apabila ada pihak-pihak yang sengaja ingin mengganggunya. Peraih gelar Master Universitas Leiden Belanda ini yang menikah dengan Diah Rofika, aktifis perempuan Jakarta, mengaku tidak memiliki motivasi beraktivitas di lembaga masyarakat sipil. Namun patut dicatat, ayah dari dua anak lelaki, Rama dan Sakti, ini kiprahnya telah banyak memberikan sumbangan bagi gerakan sosial di negeri ini. Bagaimana komentarnya tentang konsep kemajemukan dalam agama dan realitas perempuan? Berikut uraiannya.

Syafiq Hasyim

”Semua Keanekaragaman itu Diakui Islam”

Apakah yang dimaksud kemajemukan dalam Islam?

Istilah kemajemukan di Indonesia merujuk pada istilah plural dan multikultural. Pluralisme adalah konsep di mana perbedaan tidak hanya diakui, tapi juga menuntut pelibatan kita secara aktif terhadap pluralisme itu sendiri. Artinya kita tidak hanya mengakui perbedaan antara teologi orang, ideologi, kebudayaan, kondisi politik dan sebagainya. Namun kita juga melakukan pembelaan apabila ada pihak-pihak yang mengganggu perbedaan-perbedaan tersebut.

Sedang multikulturalisme lebih bersifat kebudayaan. Beda dengan pluralisme yang lingkupnya lebih luas, ada perbedaan agama, teologi dan lain-lain. Multikulturalisme titik tekannya pada keanekaragaman budaya, walaupun praktiknya antara pluralisme dan multikulturalisme itu hampir sama. Tapi bicara keragaman budaya (cultural diversity), sebagian orang ada yang memasukkannya dalam kategori teologi dan agama. Sebab, menurut persepsi mereka agama adalah bagian kultur itu sendiri.

Di Indonesia istilah majemuk lebih dangkal maknanya dibanding pluralisme dan multikulturalisme. Sebab majemuk artinya kumpulan beberapa hal pada tingkat perbedaan saja, baik perbedaan agama, suku, maupun etnis. Istilah majemuk ini belum sampai pada tahap pluralisme atau multikulturalisme.

Bagaimana Islam melihat konsep kemajemukan itu?

Islam sangat mendukung konsep multikulturalisme dan pluralisme. Perlakuan plural atas keyakinan atau agama orang lain tidak mengorbankan keyakinan Islam sendiri. Sayangnya, sebagian ulama keberatan dengan konsep ini. Menurut mereka pluralisme dianggap sebagai relativisme. Padahal bagi kalangan moderat, pluralisme tetap mengakui Islam sebagai kebenaran yang paling tinggi atau unggul. Namun bukan berarti tidak bisa mengakui keberagaman orang lain. Walau dalam konteks bahwa mereka tidak memiki agama sekalipun. Mereka berhak memiliki agama dan berhak menjalankannya. Persoalan kebenaran biarlah jadi urusan mereka sendiri.

Memang di kalangan konservatif ada yang mengatakan pluralisme itu bentuk pengakuan kebenaran agama lain atau relativisme. Tapi mayoritas akademisi dan teoritisi, tidak mendevinisikan pluralisme seperti itu. Prinsipnya, pluralisme harus tetap menghargai kebenaran Islam. Dan Islam tidak ada masalah sebagaimana ayat ”lakum dinukum waliyadin”. Itu artinya dalam tingkat praktik teologi sehari-hari, ketika ada orang yang mengganggu, kita dianjurkan membela seperti membela hak-hak dasar mereka sebagai manusia.

Apakah kemajemukan dalam Islam hanya terkait dengan keyakinan dan agama?

Semua keanekaragaman itu diakui Islam. Ada perbedaan etnis, Islam kan bukan agama etnis. Ada perbedaan jenis kelamin, Islam juga bukan agama jenis kelamin. Kemudian geografi, Islam juga bukan agama orang Indonesia, ras tertentu dan lainnya. Islam adalah agama untuk semuanya. Sebab, di sinilah letak esensi nilai-nilai universal Islam yang sangat cocok dengan apa yang diperjuangkan pluralisme.

Bagaimana realitas kemajemukan perempuan dalam Islam?

Realitas itu ya semua kemajemukan itu, etnis, agama, ras, suku, golongan dan jenis kelamin. Hanya persoalannya, pengakuan terhadap kiprah perempuan itu belum terjadi. Apa yang disebut kemajemukan, persyaratannya adalah semua orang memiliki posisi dan nilai yang sama. Kenyataannya perempuan dalam konteks sejarah Islam belum banyak diakui. Padahal pluralisme atau multikulturalisme justru menghimbau terjaminnya hak-hak tiap orang, tanpa membeda-bedakan jenis kelamin.

Bagaimana perempuan Muhajirin dan Anshor masa Rasulullah memberikan contoh untuk bersatu dalam keragaman?

Ya waktu itu banyak masyarakat yang berbeda etnis, kulit hitam dan putih, ada orang Arab juga Badui, ada orang kota Makkah atau Madinah. Tapi itu tidak jadi persoalan bagi Islam, karena saat itu agama dibawa untuk menyelesaikan persoalan etnisitas itu. Sehingga semua persoalan etnis, kelas soisial, politik justru hampir selesai tanpa masalah di masa Nabi. Tapi yang soal jenis kelamin antara lelaki dan perempuan ini belum selesai dalam Islam. Padahal idealnya Islam harus mengakui meski mereka berbeda jenis kelamin. Sebab ini persoalan pluralisme juga.

Islam memang mengatakan perempuan punya kedudukan sama dengan lelaki, tapi praktiknya itu tidak diakui. Perempuan tidak dapat pengakuan dari para penganut agama itu. Misalnya para perempuan perawi hadis yang banyak jumlahnya, mereka hanya dimanfaatkan para pengkaji hadis, dan kelebihannya belum diakui dibandingkan perawi laki-laki.

Apakah konsep kemajemukan Islam bisa menghapus diskriminasi itu dan mendorong perempuan utamanya di Indonesia untuk membuat perubahan?

Saya kira Islam punya potensi yang tinggi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sayangnya Islam belum menyelesaikan persoalan jenis kelamin itu. Tapi kalau isu bahwa perempuan Islam harus jadi penggerak untuk gerakan perempuan itu bagus sekali. Tapi lagi-lagi Islam harus menyelesaikan persoalannya dulu. Yakni, apakah persoalan jenis kelamin ini masih jadi masalah atau tidak, kalau masih ya bagaimana bisa jadi penyemangat bagi perubahan? Kalau itu selesai, mungkin konsep kemajemukan Islam bisa jadi penyatu gerakan untuk perubahan atau penghapusan diskriminasi.

Bagaimana idealnya, jika Islam dianggap belum menyelesaikan persoalan jenis kelamin?

Ya diselesaikan dulu soal jenis kelamin itu. Ulama, intelektual muslim harus menyelesaikan persoalan itu. Mereka harus menjelaskan di dalam Islam tidak ada perbedaan jenis kelamin. Mereka sama-sama memiliki hak. Artinya kelompok-kelompok atau elemen-elemen agama yang mengatakan perempuan tidak setara dengan lelaki itu harus selesai dulu dengan pemahamannya. Seperti pemahaman dan pengakuan bahwa lelaki dan perempuan setara. Perempuan bisa melakukan apa saja, laki-laki juga, tanpa dibatasi konstruksi sosial gender.

Ulama harus sepakat Islam tidak diskriminatif terhadap jenis kelamin. Jika ini selesai baru Islam bisa dijadikan penggerak perubahan. Tapi jangan Islamnya, harus spirit pluralitasnya yang digunakan untuk melakukan gerakan besar. Kalau Islamnya itu sendiri, dikhawatirkan akan dijadikan alasan menagih janji dikemudian hari, yang implementasinya akan berbahaya juga. Sebab kalau itu terjadi, maka secara kasat mata akan bicara soal politik dan ekonomi. Kalau politik ya politik yang berdasarkan struktur Islam, kalau ekonomi ya ekonomi yang berdasarkan struktur politik Islam.

Islam sudah selesai dengan persoalan itu, tapi interpretasi pemeluk agamanya yang berbeda-beda. Apa pendapat Anda?

Ya itu memang oknum pemeluk agama, karena Islam tidak mengakui hirarki kelembagaan. Ini yang bicara oknum. Beda dengan agama tertentu. Kalau pemuka agamanya mengatakan sesuatu, misalnya, maka harus ditaati. Tidak demikian halnya dengan Islam. Kalau seorang Imam mengatakan sesuatu, atau organisasi tertentu mengatakan hal tertentu, tidak ada kekuatan yang mampu menghindarkan itu.

Kembali pada realitas kemajemukan perempuan, apakah konsep majemuk ini bisa jadi pemersatu keragaman perempuan?

Tergantung bagaimana mendefinikan kemajemukan. Kalau kemajemukan hanya menampung orang atau perempuan yang berbeda aspirasi, menampung perbedaan kota-desa, etnis, jilbab dan tidak berjilbab, perbedaan afiliasi politik, memang tidak ada yang lain selain pluralisme dan multikulturalisme. Kita tidak bisa berharap pada konsep lain. Sebab hanya dua konsep ini yang mampu menyatukan perbedaan itu. Tidak hanya penyatuan tapi rekognisi, bahkan pembelaan secara aktif terhadap perbedaan itu. Kalau hal itu bisa diimplementasikan akan luar biasa sekali.

Konsep pluralisme ini sangat luas. Ia butuh kaki-kaki untuk mengimplementasikannya. Kakinya apa? Ya dikembalikan pada agenda perempuan atau masyarakat sendiri, seperti apa. Tapi dalam agama sendiri kadang ada persoalan, terutama pada soal pembelaan secara aktif (positive engagement). Dalam Islam pembelaan terhadap agama lain kadang dipersoalkan. Bolehkah membantu mendirikan gereja, misalnya. Bolehkah menolong perempuan pemeluk agama lain, atau etnis lain yang jadi korban kekerasan rumah tangga? Jika kita menggunakan pluralisme pertanyaan itu hilang.

Bagaimana idealnya konsep kemajemukan Islam memandang keragaman perempuan?

Keberadaan mereka harus diakui sebagaimana keragaman yang lain. Tidak hanya diakui, tapi juga dibela. Tidak menjadikan mereka sebagai korban.

Bagaimana mengimplementasikan konsep ideal ini terkait Rancangan Undang-undang (RUU) Pornografi?

Di dalam RUU Pornografi, cara pandang multikulturalisme dan pluralisme terhadap perempuan adalah dengan memposisikan perempuan sebagaimana laki-laki. Perempuan bukan dijadikan obyek dari RUU itu, tapi juga sebagai pelaku. Kalau ada hal terkait dengan sanksi yang ditujukan bagi perempuan, maka sanksi itu juga harus melihat orang lain, yaitu laki-laki.

Kita butuh pandangan menyeluruh, yang tidak semata melihat masalah dari sudut perempuan saja. Tapi juga harus dilihat perempuan seperti ini karena dipengaruhi hal-hal lain. Misalnya, dominasi laki-laki dalam melihat citra perempuan yang baik dan buruk. Lalu soal kebudayaan dan politik, di mana perempuan tidak memiliki kesempatan berpolitik yang besar. Lalu ketika ada konstelasi politik seperti ini tampaknya perempuan-lah yang selalu jadi korban.

Ini akan selesai kalau persoalan internal di dalam Islam tentang jenis kelamin selesai. Kalau itu tidak selesai, maka akan terjadi perdebatan. Misalnya kelompok tertentu mendukung adanya RUU Pornografi, karena cara pandang mereka terhadap posisi perempuan berbeda dari cara pandang kelompok yang menolaknya.

Apa yang terjadi dalam RUU Pornografi sehingga itu dianggap berseberangan dengan nilai kemajemukan bagi perempuan?

Dari isinya kita tahu, cara pandang yang dipakai RUU ini adalah pandangan yang dipengaruhi konsep agama yang bertolak belakang dengan semangat pluralisme. Islam di sini adalah yang diyakini elemen tertentu, yang menurut saya belum menyelesaikan persoalan jenis kelamin tadi.

Di dalam RUU ini juga ada standarisasi moralitas, misalnya dalam berpakaian. Standardisasi itu tidak bisa dipakai, sebab kenyataan di Indonesia, perempuan dari Sabang sampai Merauke punya konsep berbeda tentang berpakaian dan pornografi. Mungkin pakaian koteka dianggap orang Jawa sebagai pornografi. Tapi bagi orang Irian itu pakaian resmi. Jika RUU ini digunakan kita akan terjebak pada sistem moralitas yang otoriter, tidak mengakui moralitas itu pada dasarnya adalah multi atau banyak interpretasi. Jadi menurut saya RUU Pornografi tidak perlu ada. Kita sudah cukup dengan undang-undang moralitas yang sekarang ini berlaku.

Apa yang kita dikehendaki dari RUU itu?

Yang kita kehendaki RUU Pornografi tidak demikian. RUU itu harus mengayomi semua orang termasuk perbedaan yang ada dalam realitas keseharian perempuan. Baik perbedaan etnisitas, politik, kelas sosial, dan lainnya. Hal itu harus diakui semua. Menurut Islam yang belum bisa menyelesaikan perbedaan jenis kelamin, mereka membedakan tubuh perempuan dengan tubuh laki-laki. Semestinya tubuh perempuan tidak beda dengan lelaki. Artinya mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama. Dan agama harus sudah menyelesaikan persoalan jenis kelamin ini.

Bagaimana idealnya pasal-pasal yang ada dalam RUU ini?

Ya harus didasarkan pada kepentingan orang banyak. Bukan pada proporsi politik, atau mayoritas dan minoritas. Bagaimana perempuan di Irian atau di Bali yang punya konsep berbeda dalam berpakaian? Bagaiamana dengan perempuan yang Islamnya sudah menyelesaikan persoalan jenis kelamin, yang memandang jilbab bukan kewajiban agama, tapi pilihan?

Mengapa kita selalu debat kusir? Itu karena kita tidak berangkat dari hal-hal yang paling dasar ini. Yakni sejak dini kita harus akui Islam itu (gagasan Islam ideal-red) sudah menyelesaikan persoalan jenis kelamin tadi. Kalau perspektif ini digunakan maka kita bisa melihatnya secara terang. Bisa melihat keislaman yang begitu ramah terhadap segala perbedaan. Memandang perempuan setara dengan laki-laki.

Bagaimana elemen-elemen agama itu bisa menyelesaikan persoalan pembedaan jenis kelamin?

Pertama harus ada pembongkaran pengetahuan para pemimpin, ulama, dan stakeholder lainnya. Tampaknya dalam pengetahuan mereka, kebenaran Islam yang hakiki sudah terlalu jauh. Sebab pengetahuan yang dipegang adalah patriarkisme dalam agama. Jika kita bisa membongkar patriarkisme ini, kemajemukan akan jadi persoalan yang mudah.

Perbedaan antara lelaki dan perempuan itu ada, tapi jangan sampai terjadi pembedaan. Diskriminasi harus dihilangkan. Sedangkan selama ini pengetahuan yang didapat dari penafsiran kitab suci atau fatwa ulama tidak demikian, yang didapat adalah patriarkisme itu.

Bagaimana hal tersebut dapat diselesaikan pada tingkat internal perempuan sendiri?

Ini mungkin masalah program yang harus ditanyakan pada perempuan langsung. Sebab mereka yang lebih tahu kebutuhannya sendiri.

Pendapat Anda?

Sebetulnya hal yang paling saya pikirkan sejak lama adalah perempuan itu kekurangan tenaga yang berasal dari dalam perempuan sendiri.

Apa contohnya?

Misalnya teolog-teolog perempuan itu tidak banyak jumlahnya. Kalau sumberdaya mereka banyak, tidak akan tergantung pada laki-laki. Untuk mencapai hal itu harus melakukan pendidikan yang mendalam, agar posisi perempuan berada pada tingkat yang sederajat dengan laki-laki di bidang pengetahuan. Juga supaya tidak ada perbedaan otoritas antara ulama laki-laki dan ulama perempuan. Karena selama ini orang masih bertanya tentang otoritas ulama perempuan. Kalau otoritas mereka diakui, mereka bisa membela kaumnya sendiri, tidak harus meminjam tangan para teolog laki-laki.

Bicara realitas kemajemukan perempuan dari sisi agama, apa harapan Anda?

Saya sendiri masih meragukan isu kemajemukan relevansinya dengan realitas perempuan.

Apa yang bisa menghilangkan keraguan Anda?

Isunya kurang clear. Apa yang diharapkan dari agama. Selama saya mempelajari literatur Islam tentang pluralisme, agak susah mengaitkan antara pluralitas, perempuan dan agama. Perempuan memang butuh pluralisme. Semua orang butuh. Sebab selama ini perempuan selalu dikorbankan, dan salah satu konsep yang diakui Islam dapat menghilangkan pemiskinan, marjinalisasi dan diskriminasi perempuan ya pluralisme itu. Pluralisme adalah hal penting bagi pembelaan secara aktif bagi kemajemukan perempuan.

Apa harapan anda terkait tanggungjawab negara?

Berharap pada negara terlalu besar. Apa yang bisa kita harapkan, setiap berharap tidak pernah menjawab persoalan. Tidak perlu berharap pada negara. Sebab yang penting adalah apa yang harus kita lakukan sekarang, sekecil apapun itu untuk menjaga kemajemukan. [ ] Hafidzoh Almawaliy


Responses

  1. Alhamdulillah..
    kalau sudah di akui..
    aku bersyukur..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: