Oleh: hafidzohalmawaliy | Maret 25, 2009

Perempuan dan Tradisi Khitanan : Paham di Balik Sunat Perempuan

Pengakuan itu datang dari seorang perempuan yang tinggal di Sawangan – Depok, Jawa Barat, kepada media Tempo beberapa waktu silam. Sebut saja namanya Sarah, 36 tahun. Kenangan traumatis itu masih membekas dalam dirinya. Ketika itu usianya baru menginjak 9 tahun saat sang ayah mengajaknya ke rumah sakit menemui seorang bidan. Di ruang periksa ia diminta duduk dan melihat langit-langit. Si bidan lalu menyuntikkan obat bius, sebelum menorehkan peralatan ke sebuah celah di pangkal pahanya. Obat bius itu tak bekerja optimal. Sarah pun menjerit dan meronta.[1]

Pengakuan lain mengisahkan, ”Ibu, anak Anda sudah dikhitan dan ditindik”, kata suster pada seorang ibu muda. Lalu ibu muda itu bertanya, “Kok sudah dikhitan, dikhitan seperti apa?” “Enggak kok Bu, itu cuma dibaluri betadine saja”, terang suster. Kemudian ibu muda itupun berkesah, ”Yang aku sesalkan dari semua itu adalah aku tidak diajak bicara, padahal semestinya aku sebagai orang tua dimintai persetujuan dulu, tidak langsung main khitan begitu saja”.

Demikian kurang lebih dialog Nong Darol Mahmada ketika bercerita tentang anak perempuannya yang dikhitan petugas medis di sebuah rumah sakit bersalin di Jakarta. Pengakuan itu disampaikan aktivis perempuan sekaligus ibu muda yang satu ini dalam film dokumenter bertajuk Pertaruhan. Film ini merupakan produksi teranyar Nia Dinata bersama Kalyana Shira Foundation, yang baru-baru ini diputar oleh YKP (Yayasan Kesehatan Perempuan) di Auditorium S. Widjojo Center, Jakarta.

Meski sejak tahun 2004 lalu, Departemen Kesehatan Republik Indonesia telah menerbitkan larangan praktik sunat perempuan bagi bidan-bidan atau tenaga medis lainnya, tapi realiatasnya sunat perempuan masih saja terjadi di negeri ini. Mengapa demikian? Apa sesungguhnya motivasi paham di balik sunat perempuan?

***

Memang, realitas khitan atau sunat perempuan masih jadi masalah besar yang harus diperbincangkan lebih dalam. Sebab khitan memberikan berbagai dampak bagi seksualitas dan kesehatan reproduksi perempuan.

Dalam berbagai jenisnya, sunat perempuan ini telah banyak dipraktikkan di lebih dari duapuluh negara, khususnya di masyarakat muslim bermadzhab Syafi’i. Di Afrika misalnya, sunat perempuan terjadi di negara Kamerun, Sierra Leone, Ghana, Mauritania, Chad, Mesir Utara, Kenya, Tanzania, Botswana, Mali, Sudan, Somalia, Ethiopia, dan Nigeria. Sedang di Asia, praktik sunat perempuan umumnya dilakukan di negara Filipina, Malaysia, Pakistan, dan Indonesia.

Di Amerika Latin, praktik sunat perempuan dilakukan di negara seperti Brasil, Meksiko bagian timur, dan Peru. Sementara, beberapa negara Barat yang terpengaruh dengan praktik ini adalah Inggris, Perancis, Belanda, Swedia, Amerika, Australia, dan Kanada. Di negara-negara ini, sunat perempuan masih ada di kalangan imigran dari negara yang biasa melakukannya meski undang-undang telah melarangnya.

Seperti halnya di negara-negara tersebut, khitan perempuan juga dipraktikkan di Uni Emirat Arab, Yaman Selatan, Bahrain dan Oman, tapi sunat ini tidak umum dilakukan di Saudi Arabia, Iran, Irak, Yordania, Syiria, Libanon, Maroko, Aljazair, dan Tunisia. Adapun di Turki yang bermazhab Hanafi, tidak mengenal praktik khitan perempuan, begitu juga Afghanistan dan negara Maghribi lainnya.

Di Mesir sendiri, meski hukum Mesir tahun 1959 telah melarang khitan perempuan, praktik ini tetap berlangsung di pedesaan. Bahkan praktik infibulasi (memotong seluruh bagian klitoris, labia minora, dan sebagian labia mayora) kabarnya juga masih terjadi. Fenomena ini juga ada di Sudan dan negara Timur Tengah tertentu.[2]

***

Selama ini anggapan yang berkembang, sunat perempuan hanyalah dilakukan perempuan muslim. Namun kenyataannya tidak demikian, bagi perempuan non-muslim di wilayah Sub-Sahara Afrika, seperti Mesir, Sudan, Somalia, Ethiopia, Kenya, dan Chad, mereka juga mengalami praktik sunat perempuan.[3]

Dalam literatur-literatur sejarah menyebutkan, khitan anak perempuan sesungguhnya bukan tradisi masyarakat muslim. Ia telah ada dalam sejarah agama-agama sebelum Islam, seperti Yahudi dan Kristen. Hanya kemudian, seiring berjalannya peradaban, manusia meneruskan ritual itu hingga sekarang. Dari sebuah penelitian antropologi misalnya ditemukan, sunat perempuan sudah ada pada mummi (mayat yang diawetkan) putri-putri masyarakat Mesir kuno dari golongan kaya dan berkuasa. Tapi hal ini jarang terdapat pada mummi dari kalangan rakyat jelata pada abad ke-16 SM.[4] Pada masa ini, disinyalir khitan perempuan dimaksudkan untuk mencegah masuknya ruh jahat dari organ vital perempuan.

Literatur lain menyebutkan, sunat atau khitan ini telah diperkenalkan kitab suci Taurat untuk ditaati orang-orang Yahudi, keturunan Israel. Kitab ini notabenenya merupakan agama Samawi yang dibawa Nabi Musa as. Namun demikian, sebelum ini pun sunat telah dilakukan Nabi Ibrahim as. sebagai ilham dari Tuhan. Sunat pada zaman Taurat itu dijadikan sebagai tanda yang membedakan bangsa Israel dengan bangsa lainnya. Tanda ini terkait dengan janji tentang kedatangan Mesias (Nabi Isa as.) yang akan turun dari garis keturunan bangsa Israel, khusunya orang-orang Yahudi. Selain itu, khitan pada zaman tersebut hanya dikhususkan untuk laki-laki, sedang perempuan tidak diperintahkan menjalankannya. Sementara pada sebagian penganut Kristen Katolik dan umat Islam sunat ini berlaku bagi perempuan.[5]

Definisi, Jenis dan Prosedur

Kata khitan sebetulnya berasal dari bahasa Arab yang secara umum berarti memotong. Sementara dalam fiqh, khitan adalah memotong sebagian kulit yang menutup hasyafah atau kepala penis.[6] Sedang khitan perempuan disebut-sebut dengan istilah khifadh. Maksud khifadh sendiri yang pernah terjadi di Mesir yaitu memotong kelentit (klitoris) perempuan dengan sebuah gunting kecil.[7]      
 
Di Indonesia prosedur praktik sunat perempuan berbeda dengan yang terjadi di Afrika. Di Afrika sunat perempuan dilakukan secara ekstrim, seperti menyayat atau bahkan memotong seluruh bagian klitoris. Sedang masyarakat Indonesia, sunat perempuan biasanya dilakukan dengan cara-cara yang sederhana. Misalnya, melukai sebagian kecil organ vital bagian dalam, atau sekedar simbolis saja. Simbolisasi ini biasanya dilakukan dengan meruncingkan kunyit lalu ditorehkan pada klitoris anak perempuan.[8] Namun, sunat perempuan di beberapa daerah tertentu, ada pula yang menggunakan alat-alat tajam, atau bahkan dengan batu permata yang digosokkan ke bagian klitoris. 

Berdasarkan data WHO (World Health Organization) tahun 2004 ada beberapa jenis atau tipe sunat perempuan. Jenis itu antara lain, pertama, menghilangkan bagian permukaan, dengan atau tanpa diikuti pengangkatan sebagian atau seluruh bagian klitoris. Kedua, pengangkatan klitoris diikuti dengan pengangkatan sebagian atau seluruh bagian labia minora. Ketiga, pengangkatan sebagian atau seluruh bagian organ genital luar diikuti dengan menjahit atau menyempitkan lubang vagina (infibulasi).

Keempat, menusuk, melubangi klitoris dan labia, atau merenggangkan klitoris dan labia, tindakan memelarkan dengan jalan membakar klitoris atau jaringan di sekitarnya. Kelima, merusakkan jaringan di sekitar lubang vagina (angurya cuts) atau memotong vagina (gishiri cuts). Keenam, memasukkan bahan-bahan yang bersifat merusak atau tumbuhan-tumbuhan ke dalam vagina dengan tujuan menimbulkan pendarahan, menyempitkan vagina, dan tindakan-tindakan lain yang dapat digolongkan dalam defini ini.[9]

Secara umum dari tipe-tipe tersebut kurang lebih ada empat tipe yang dikenal dan dipraktikkan secara umum di berbagai negara dunia. Pertama, sirkumsisi. Sirkumsisi ini merupakan pengangkatan bagian permukaan dan ujung dari klitoris. Meski demikian, bentuk ini termasuk cara yang lebih halus dan tidak merusak.

Kedua, excission atau clitorydectomy, ini merupakan pengangkatan klitoris yang sering diikuti dengan pengangkatan labia minora. Ketiga, infibulasi atau pharaonic circumcision, yaitu pengangkatan klitoris yang diikuti dengan pengangkatan labia mayora serta menempelkan kedua sisi vagina dengan menjahit atau menyatukan secara alami jaringan yang terluka dengan menggunakan media seperti duri, sutera, atau benang dari usus kucing. Praktik infibulasi ini hanya menyisakan lubang kecil sebesar kepala korek api untuk keluarnya cairan menstruasi. Tipe ini merupakan salah satu bentuk sunat perempuan yang ekstrim dan sangat merusak oragan vital perempuan.[10]

***

Dalam praktik sunat perempuan sebetulnya tidak ada prosedur standar pasti untuk melakukannya. Sebab prosedur yang digunakan setiap masyarakat berbeda-beda tergantung pada daerah, kebiasaan, serta adat-istiadat masyarakat setempat.

Biasanya, seorang anak atau perempuan yang hendak dibuatkan ritual sunatan, mereka disuruh duduk di air dingin untuk mematikan rasa di daerah yang akan dipotong serta mengurangi kemungkinan pendarahan. Kebanyakan dari anak-anak dan perempuan itu tidak diberikan penghilang rasa sakit. Mereka hanya dipegangi beberapa perempuan yang lebih tua, tangan dan kakinya, sehingga bagian organ vitalnya lebih terekspos.

Untuk beberapa praktik sunat perempuan yang ekstrim, selanjutnya sunat ini akan dilakukan dengan menggunakan pemotong seperti pecahan kaca, besi tipis, gunting, silet, jarum atau benda-benda tajam lainnya. Jika praktik sunat yang digunakan adalah infibulasi, maka jahitan yang digunakan untuk merapatkan kedua sisi labia minora dan labia mayora yang telah terpotong, terlebih dulu diselipi bambu atau kayu untuk menciptakan lubang pada daerah yang dirapatkan. Lalu si anak atau perempuan yang disunat itu akan diikat kakinya dan dibiarkan tergantung selama kurang lebih 40 hari.

Anak dan perempuan yang diinfibulasi, tidak akan memiliki besar lubang organ vital yang normal. Lubang organ vital yang sangat kecil ini tidak mungkin dipakai untuk aktivitas seksual. Hal ini dilakukan karena tujuan utama infibulasi adalah menjaga ‘ke-gadis-an’ perempuan yang belum menikah. Jika perempuan yang telah mengalami infibulasi hendak melakukan hubungan seksual, maka ia harus dibuka kembali atau defibulasi, dan nantinya juga dibuka lebih lebar lagi untuk kepentingan persalinan.

Dalam catatan WHO, semua tipe dan jenis sunat perempuan tersebut dikategorikan sebagai Female Genital Mutilation atau biasa disingkat FGM.

Prosedur sunat perempuan ini, rata-rata dilakukan oleh perempuan yang lebih tua, dukun, tukang cukur, atau bidan dan dokter yang profesional. Selain itu, prosedur sunat perempuan ini rata-rata mengakibatkan sakit yang luar bisa, baik pada saat maupun setelah proses sunat. Tapi anehnya, kebanyakan sunat perempuan ini dilakukan kaum perempuan sendiri, dan jarang dilaksanakan oleh laki-laki.

Sementara itu, usia dilaksanakannya sunat perempuan juga sangat bervariasi, tergantung adat dan kebudayaan masyarakat. Namun demikian, sunat perempuan ini rata-rata dilakukan pada saat perempuan masih usia bayi, anak-anak usia 7 sampai 10 tahun, remaja dan juga perempuan dewasa. Misalnya, pada masyarakat Somalia sunat perempuan seringkali dilakukan pada perempuan usia 18 sampai 68 tahun. Sedang di Ethiopia, sunat perempuan dilakukan pada kisaran usia 30 sampai dengan 52 tahun. Dari kriteria usia itu, yang paling marak dilakukan adalah kisaran usia 4 sampai dengan 8 tahun.[11] Adapun di Indonesia sendiri, rata-rata usia sunat dilakukan saat perempuan masih bayi atau minimal usia 7 hari setelah kelahiran, dan rata-rata dilakukan tenaga-tenaga medis, bidan, dokter, dan juga dukun bayi.

Alasan-alasan

Di kalangan masyarakat dunia yang mempraktikkan sunat perempuan, ada bermacam-macam alasan berbeda yang memotivasi mereka. Mulai dari alasan tradisi, adat-istiadat, kebiasaan, hingga alasan mengikuti ajaran agama.

Memang, untuk mendapatkan alasan-alasan yang pasti dari sunat perempuan, orang harus mencari tahu dari mana asal-usul sunat perempuan ini berlaku. Tapi, hal itu hampir tidak mungkin diketemukan, sebab sunat perempuan telah berlangsung berabad-abad dan dipraktikkan di tengah masyarakat yang berbeda adat-istiadat, agama, wilayah, tempat tinggal, iklim, kebudayaan, ras, dan sebagainya.

Menurut beberapa ahli, sunat perempuan dilakukan pertama kalinya di kawasan Mesir, sebagai bagian upacara bagi perempuan yang telah beranjak dewasa. Tradisi sunat perempuan di Mesir ini merupakan akulturasi budaya antara penduduk Mesir dan Romawi yang saat itu banyak tinggal di Mesir. Dari akulturasi budaya inilah, tradisi sunat perempuan mulai dijalankan masyarakat Mesir. Kata infibulasi itu pun berasal dari bahasa Romawi ”fibula” yang artinya menyatukan atau menempelkan.

Saat itu, masyarakat Romawi menerapkan praktik infibulasi pada budak perempuannya untuk meningkatkan daya jual mereka di pasar. Sementara masyarakat Mesir mengadopsi praktik infibulasi untuk tujuan membuat perempuan Mesir lebih diminati dan sekaligus menjaga kegadisannya. Lambat laun, praktik sunat perempuan ini dilaksanakan pula oleh kelompok-kelompok agama tertentu dan jadi tradisi yang populer. Namun alasan agama ini bukan menjadi alasan utama masyarakat dalam melakukan hal itu.

Alasan-alasan diberlakukannya praktik sunat perempuan itu antara lain, pertama, karena persoalan identitas budaya. Budaya dan tradisi merupakan alasan utama dilakukan praktik sunat perempuan. Ini karena ada anggapan, menjalankan ritual tradisi atau budaya merupakan tahap inisiasi bagi seorang perempuan untuk memasuki tahap kedewasaan dan menjadi bagian resmi dari sebuah kelompok masyarakat.

Kedua, persoalan identitas Gender. Alasan ini menganggap penting praktik sunat perempuan, sebab jika seorang perempuan ingin jadi pribadi perempuan seutuhnya, praktik ini akan memberikan suatu perbedaan jenis kelamin dan peran mereka di masa depan dalam kehidupan perkawinan. Sebab pengangkatan klitoris dianggap sebagai proses penghilangan organ laki-laki pada tubuh perempuan, sehingga feminitas perempuan akan sempurna. Bahkan praktik sunat ini dimaksudkan untuk membentuk kepatuhan dan kelemahan perempuan dengan trauma yang didapatkan, sehingga ia memperoleh pengajaran tentang perannya dalam masyarakat.

Ketiga, persoalan kontrol seksualitas serta fungsi reproduksi perempuan. Dengan alasan ketiga ini, dipercaya perempuan yang mengalami sunat dapat terkurangi hasrat seksualnya, sehingga ia bisa menghindari praktik seks di luar nikah. Bahkan lebih jauh, perempuan yang tidak mendapatkan sunat akan sangat diragukan kesetiannya terhadap pasangannya atau sumianya.

Keempat, alasan kebersihan, kesehatan dan keindahan. Alasan kebersihan, keindahan dan kesehatan ini paling banyak digunakan masyarakat di seluruh dunia sebagai pembenar praktik sunat perempuan. Sunat perempuan yang mereka lakukan dikaitkan dengan tindakan penyucian diri bagi si perempuan. Selain itu, dengan alasan ini masyarakat akan percaya perempuan jadi lebih subur dan mudah melahirkan.

Persoalan ideologis

Persoalan ideologi dalam sunat perempuan adalah hal yang paling rumit untuk dibuktikan. Sebab ideologi bisanya menjadi alasan kuat yang tidak muncul kepermukaan. Beberapa tokoh berpendapat terkait hal ini, seperi Nawal El Saadawi, ia sangat kritis membongkar persoalan ideologi di balik praktik sunat perempuan. Tokoh perempuan yang seorang dokter sekaligus juga korban dari praktik excission ini pernah menyampaikan, sunat perempuan sesungguhnya dilakukan untuk menjaga keperawanan dan meminimalisir (mengurangi) hasrat seksual perempuan. Dengan disunat, seorang perempuan akan dapat menjaga martabat diri dan keluarganya.

Lebih jauh, Nawal juga pernah mengemukakan, praktik sunat perempuan merupakan tindakan yang dimaksudkan untuk mendominasi perempuan dalam masyarakat yang patriarkal. Di mana dalam masyarakat itu, seorang laki-laki akan dapat memiliki lebih dari seorang istri, dengan memperalat kelemahan seksual perempuan sebagai tameng untuk legitimasi tindakan poligaminya.

Apa yang disampaikan Nawal tersebut senada dengan pendapat Farha Ciciek. Menurutnya praktik sunat perempuan yang terjadi di seluruh dunia ini tidak lain adalah bentuk pertunjukan kekuasaan laki-laki atas perempuan. Budaya laki-laki telah teramat bernafsu untuk mengontrol seksualitas dan tubuh perempuan. Lebih jauh menurut Farha, tidak peduli apakah sunat perempuan ini dilakukan secara nyata, atau hanya dilakukan secara simbolis. Justru secara simbolis seperti menggunakan kunyit inilah, yang menurutnya jauh lebih berbahaya. Sebab ini adalah bentuk penjajahan abadi kaum patriarkal atas eksistensi perempuan yang dilanggengkan dan dilangsungkan terus-menerus dengan melakukan sunat untuk mengontrol seksualitas perempuan.

Memang, menurut Farha Ciciek alasan-alasan tentang menjalankan ajaran agama juga muncul dalam praktik sunat perempuan. Tapi alasan itu tidak cukup kuat untuk pelaksanaan sunat perempuan. Perlu diingat, sebagian besar perempuan yang mengalami praktik sunat ini, tidak mengerti mengapa mereka harus menjalankan ritual tersebut. Jika ditanya, mereka hanya akan menjawab bahwa mereka hanya menjalankan tradisi yang sudah ada, tanpa tahu manfaat baik atau efek negatifnya.

***

Yang menarik, di Indonesia juga demikian halnya, praktik sunat perempuan dilaksanakan karena kecenderungan alasan menjalankan ritual ajaran keagamaan. Saat ini banyak keluarga muda yang orang tuanya sendiri tidak mempraktikkan sunat perempuan pada mereka, tapi mereka justru mempraktikkan sunat pada anak perempuannya dengan alasan memenuhi anjuran agama.[12]

Mengapa praktik sunat perempuan di Indonesia tidak dianggap masalah, dan bahkan cenderung disangkal, meski hampir tiap keluarga mempraktikkannya? Jawaban secara harfiah, sunat perempuan disangkal karena sunat dalam arti harfiah, seperti memotong klitoris, tidak pernah ada laporannya.

Memang, di Indonesia hampir tidak pernah ada laporan tentang praktik sunat dengan tingkat kebrutalan tertentu, serta meninggalkan dampak negatif yang secara medis membahayakan kesehatan perempuan seperti yang terjadi di Afrika, atau pada suku-suku tertentu di dunia. Akan tetapi, jika dianalisis dengan pendekatan ideologis, betapapun simbolisnya, alasan di balik praktik itu ternyata sama persis dengan alasan pemotongan kelamin yang terjadi di Afrika. Di antaranya, alasan itu tidak lebih dari sekadar proses inisiasi menuju kedewasaan perempuan, atau penyucian diri, ataupun alasan kontrol terhadap dorongan seksual perempuan.

Tentu saja, alasan-alasan kebersihan dan kesehatan pun masih sangat perlu untuk dipertanyakan. Sebab anggapan kolektif yang menyatakan kotoran yang menempel pada klitoris dapat membuat libido seks perempuan tak terkendali, belum ada bukti medis yang akurat. Kecurigaan kolektif tentang kecenderungan seks perempuan yang tak terkendali telah membuat mereka sejak bayi pun harus dikendalikan, ini sungguh tidak masuk akal.

***

Tampaknya, alasan yang lebih mendekati kuat dari praktik sunat perempuan memang alasan tradisi yang disertai paham patriarkal. Di kalangan suku Madura yang ada di Yogyakarta pernah diadakan sebuah penelitian tentang praktik sunat perempuan yang mereka lakukan. Salah satu hasil penelitian ini menunjukkan, paling tidak ada 2 macam tradisi utama yang menyertai pelaksanaan sunat perempuan itu, yaitu penyediaan sesaji dan penyelenggaraan selamatan.

Dari penggunaan sesaji dan selamatan oleh masyarakat suku Madura pada pelaksanaan sunat perempuan, kaum pengusaha-lah yang paling banyak mempraktikkan penyediaan sesaji. Sementara masyarakat terpelajar, rata-rata mereka hanya mengadakan selamatan untuk prosesi sunat anak perempuannya.[13]

Dalam penyelenggaraan-penyelenggaraan praktik sunat, sesaji, juga selamatan, ini memunculkan pula alasan faktor ekonomi sebagai salah satu penyebab masih terjadinya khitan perempuan. Menurut hasil penelitian tersebut, profesi sebagai pelaksana prosedur sunat perempuan merupakan pekerjaan turun-temurun dari seorang ibu kepada anaknya, yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Bila praktik sunat perempuan dihilangkan, maka otomatis pendapatan keluarga juga akan hilang.

Sementara itu, di kalangan tenaga medis praktik sunat perempuan juga tak kalah memberikan masukan ekonomi yang baik untuk mereka. Bagi bidan-bidan atau tenaga medis lainnya, baik di rumah sakit atau pada praktik-praktik pribadi, tak jarang sunat perempuan jadi layanan satu paket dengan tindik dan melahirkan. Mereka tidak mau menghilangkan item tambahan biaya untuk tindik dan sunat tersebut, hingga tidak sedikit keluhan orang tua yang tiba-tiba tanpa dimintai pendapat dan persetujuan langsung diberitahu bahwa anak perempuannya telah dikhitan. Seperti halnya kasus yang terjadi pada anak perempuan Nong Darol Mahmada.

Masalah yang ditimbulkan

Khitan atau sunat bagi perempuan dilihat dari fungsi dan manfaatnya, memang berbeda dengan sunat bagi laki-laki. Khitan bagi laki-laki membawa manfaat untuk tubuhnya, sebab kulit pada ujung alat vitalnya yang biasa dijadikan sarang penyakit akan dihilangkan. Sehingga khitan pada laki-laki menjadikan alat vital itu lebih sehat dan suci. Selain itu khitan ini juga menimbulkan kenikmatan seksual apabila mereka berhubungan dengan istri.

Berbeda dengan laki-laki, sunat pada perempuan menurut A.H. Taba mantan Direktur Regional WHO untuk Timur Tengah, akan dapat menimbulkan masalah kesehatan pada anak dan perempuan. Menurutnya, segala jenis operasi pada organ genital (sangat sensitif) akan menyebabkan gangguan fisik dan psikis yang serius pada perempuan. Gangguan fisik atau mental ini bisa terjadi dalam waktu jangka pendek, atau dapat juga muncul dalam jangka waktu panjang. Ini tergantung tingkat ketahanan diri anak atau perempuan tersebut, keadaan lingkungan psikososialnya, dan faktor-faktor lainnya.

Memang, secara psikologis sunat perempuan dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan sensitivitas jaringan di daerah genital, terutama klitoris, untuk mengurangi gairah seks perempuan. Tapi justru inilah yang kemudian berdampak buruk bagi perempuan. Dalam jangka panjang perempuan akan cenderung tidak bisa menikmati hubungan seksual dalam pernikahannya. Bahkan dari sisi psikologi seksual, sunat perempuan dapat meninggalkan dampak seumur hidup berupa depresi, ketegangan, rasa rendah diri dan tidak sempurna.

Secara fisik, dampak langsung sunat perempuan juga akan menimbulkan rasa sakit, pendarahan, syok, tertahannya urin, serta luka pada jaringan sekitar. Pendarahan dan infeksi ini pada kasus tertentu akan berakibat fatal pula berupa kematian. Sementara, dampak jangka panjang selain rasa sakit dan disfungsi seksual, adalah termasuk timbulnya kista dan abses, keloid dan cacat, serta kesulitan saat melahirkan.

Islam dan Sunat sebagai Pelanggaran Hak Asasi Perempuan

Islam adalah agama yang menjaga integritas manusia, baik secara lahir maupun batin. Pemotongan organ tubuh ini melanggar integritas tersebut dan merendahkan ciptaan Allah swt. yang dipandang sempurna dan tidak perlu disempurnakan lagi. Tidak ada perintah yang tegas dalam Alquran atau Hadis agar klitoris dipotong atau dimodifikasi. Itu adalah ciptaan Allah dan karenanya tidak boleh dipotong atau dikurangi ukuran maupun fungsinya.

Kenikmatan seksual merupakan hak kedua belah pihak, istri dan suami. Ayat 187 dari surat Al-Baqarah menyatakan, “istri dan suami seperti pakaian satu sama lain, saling melengkapi dan saling mengisi”. Demikian pula dalam surat Ar-Rum ayat 21, “Allah telah menjadikan cinta dan kasih sayang di antara keduanya”. Sunat perempuan merupakan pelanggaran hak perempuan karena menghapus kenikmatan yang merupakan karunia Allah swt.

Dalam bentuk apa pun, sunat telah ada jauh sebelum Islam. Hal ini telah dipraktikkan pada zaman jahiliyah jauh sebelum kehadiran Nabi saw. oleh suku-suku tertentu. Sebagai mana pendapat Hamim Ilyas, Panel Ahli Kesehatan Reproduksi PKBI, sebagai tradisi yang sudah ada jauh sebelumnya, sunat perempuan tidaklah diperkenalkan oleh Islam. Alquran tidak menyebut tentang sunat, baik untuk lelaki maupun perempuan. Yang ada dalam Alquran adalah ajaran tentang hubungan seks dalam pernikahan yang merupakan kenikmatan bersama sebagai karunia Allah. Banyak pula hadis yang menekankan pentingnya memberi dan memperoleh kesenangan dari keintiman istri dan suami.

Memotong genital perempuan dengan nama Islam adalah pelanggaran terhadap ajaran Islam sendiri. Sebab itu, tradisi budaya ini mesti dihentikan karena dampaknya merugikan perempuan.

Menurut Hamim, walaupun dasar hukumnya dinilai lemah, memang banyak ahli fiqh menganggap khitan perempuan penting. Tapi di kalangan madzahibul arba’ah sendiri, diakui Hamim, ada perbedaan pandangan di kalangan mereka tentang khitan perempuan. Mazhab Hanafi dan Maliki berpandangan, khitan perempuan hukumnya hanya mustahabb, di bawah sunah, atau direkomendasikan (dianjurkan). Sedang mazhab Syafi’i berpandangan, khitan perempuan itu wajib. Adapun dalam mazhab Hanbali, ada yang menyatakan wajib dan ada yang menyatakan tidak wajib.

Alquran sebagai sumber hukum agama Islam sama sekali tidak mencantumkan perintah khitan perempuan. Alquran hanya menyebut sebuah ayat yang memerintahkan manusia untuk mengikuti ajaran (millah) Nabi Ibrahim as. Menurut KH. Husein Muhammad, para ahli tafsirlah yang kemudian memberikan pengertian bahwa khitan adalah salah satu tradisi Ibrahim yang harus diikuti.[14]

Lebih jauh menurut Kyai Husein, karena perintah khitan perempuan tidak ditemukan dalam Alquran, maka legitimasi khitan perempuan selanjutnya didasarkan pada Hadis. Satu hadis yang sering dijadikan rujukan adalah hadis dari Ummi Athiyah yang menceritakan ada seorang perempuan bertanya perihal khitan perempuan, lalu dijawab Nabi saw., “Potonglah ujungnya dan jangan berlebihan karena itu akan mencerahkan wajah dan menyenangkan suami”. (HR. Abu Daud)

Menurut Kyai Husein, secara kualitatif hadis-hadis tentang khitan perempuan telah dinilai lemah (dhaif) oleh kalangan ahli hadis. Tidak terkecuali hadis tersebut.

Lebih lanjut Kyai Husein menegaskan, pernyataan Nabi saw. dalam hadis tersebut seharusnya dapat diinterpretasikan sebagai respon Nabi saw. atas tradisi khitan perempuan yang telah berakar kuat dalam masyarakat Arab yang patriarki waktu itu. Tentu tujuannya adalah Nabi saw. berusaha melakukan reduksi terhadap tradisi sunat perempuan itu secara persuasif dan bertahap.

***

Pada dasarnya agama tidak pernah memerintahkan perempuan untuk dikhitan. Hanya laki-laki saja yang diperintahkan khitan, itupun hanya berlaku bagi umat agama Islam dan Yahudi saja. Selebihnya, alasan tradisilah yang mendorong pelaksanaan khitan perempuan.

Pendapat yang melegalkan khitan perempuan sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari konteks penafsiran teks-teks keagamaan yang dilingkupi latar belakang budaya patriarkal dan bias gender.

Oleh sebab itu para muslim dunia telah berupaya untuk menghapuskan praktik-praktik yang menindas dan menghancurkan kemanusiaan perempuan ini. Di negara Mesir untuk praktik-praktik sunat perempuan telah diterapkan undang-undang yang melarang keras pelaksanaannya. Dalam pasal 12 CEDAW-pun hal ini dianggap sebagai bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Demikian pula Indonesia, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, ia telah menerapkan peraturan melalui Dirjen Kesehatan yang berisi pelarangan praktik medikalisasi sunat perempuan sejak tahun 2004. Sebab, sejauh ini praktik sunat perempuan memang belum ada bukti medis akan manfaatnya bagi kaum perempuan sendiri. Kini untuk menegakkan Islam sebagai rahmat bagi alam, hendaknya segeralah berbuat sesuatu untuk menyelamatkan perempuan dari praktik khitan yang merugikan. Wallahu’alam. [ ] Hafidzoh Almawaliy


[1] Rini Kustiani dan Indra Manenda Rossi, Sunat Perempuan dan Tradisi Kanibalisme, dalam http://www.tempointeraktif.com/hg/ragam/2006/10/11/brk,20061011-85780,id.html

[2] Ervan Nurtawab, Lebih jauh dengan Khitan Perempuan, dalam http://www.icrp-online.org/wmprint.php?ArtID=345

[3] Lily Zakiyah Munir, Sunat dan Pelanggaran Hak, dalam http://situs.kesrepro.info/gendervaw/okt/2006/gendervaw01.htm

[4] Sururin, Khitan (Sunat) Perempuan: Budaya, Agama, dan Kesehatan, dalam http://www.fatayat.or.id/page.php?

[5] Ahmad Lutfi Fathullah, Fiqh Khitan Perempuan, Al-Mughni Press dan Mitra Inti Foundation, Jakarta, 2006

[6] KH. Husein Muhammad, Fiqh Perempuan; Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender, LkiS Yogyakarta bekerjasama dengan The Ford Foundation dan Rahima, 2001.

[7] H. Ramlan Mardjoned, Khitan dan Khifadh, Media Dakwah, Jakarta, 1998

[8] Lies Marcoes Natsir, Mempertanyakan Praktik Sunat Perempuan di Indonesia, dalam http://situs.mitrainti.org/gendervaw/feb/2003/gendervaw07.htm

[9] Debu Batara Lubis, Female Genital Mutilation: Penghilangan Hak Perempuan atas Tubuhnya, dalam Perempuan dan Hukum: Menuju Hukum yang Berperspektif Kesetaraan dan Keadilan, diterbitkan Yayasan Obor Indonesia bekerjasama dengan The Convention Watch Universitas Indonesia dan New Zealand Agency for International Development (nzaid), Jakarta, 2006

[10] Debu Batara Lubis, Female Genital Mutilation: Penghilangan Hak Perempuan atas Tubuhnya, dalam Perempuan dan Hukum: Menuju Hukum yang Berperspektif Kesetaraan dan Keadilan, diterbitkan Yayasan Obor Indonesia bekerjasama dengan The Convention Watch Universitas Indonesia dan New Zealand Agency for International Development (nzaid), Jakarta, 2006

[12] Lies Marcoes Natsir, Mempertanyakan Praktik Sunat Perempuan di Indonesia, dalam http://situs.mitrainti.org/gendervaw/feb/2003/gendervaw07.htm

[13] Sumarni DW; Siti Aisyah; Madarina Julia, Sunat Perempuan di bawah Bayang-bayang Tradisi, PSKK Universitas Gajah Mada dan Ford Foundation, Yogyakarta, 2005

[14] KH. Husein Muhammad, Fiqh Perempuan; Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender, LkiS Yogyakarta bekerjasama dengan The Ford Foundation dan Rahima, 2001.


Responses

  1. The man behind the gun; apabila alasan akan tergiring alat,bukan alat yang selalu harus dihilangkan tapi bina dan bangun konsepsi pemilik alat itu sendiri secra mental spiritual.

    Secara biologik objek bahasan adalah salah satu komponen utama organ reproduksi perempuan, meniadakan sampai tidak berfungsi, sama saja dengan menentang hukum alam (ketentuan sang Pencipta).
    Dalil yang sahih tidak tersedia sebagai dasar syariat. Dahulukan perintah agama yang jelas konsep dalilnya, dibandingkan hanya berdasar tradisi budaya.

  2. tapi banyak yang sudah
    ada di dunia ini
    soal khitanan pada
    seorang perempuan
    .,
    ada yang bilang juga saat aku kecil aku udach d khitan,,..:)

  3. “Perempuan dan Tradisi Khitanan : Paham di Balik Sunat Perempuan | .
    .. Muara Baca …” Venetian Blinds ended up being a wonderful read and I ended up being pretty glad
    to find it. Thanks for your time-Clarice


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: