Oleh: hafidzohalmawaliy | Maret 25, 2009

Perempuan dan Pluralisme : Perempuan Meretas Kemajemukan

Keragaman warna kulit, suku, bahasa, agama, ras, dan golongan, atau jenis kelamin, laki-laki dan perempuan, tidak serta merta membuat seseorang berbeda antara yang satu dengan lainnya. Bukan berarti pula perbedaan membuat orang lain layak mendapatkan perlakuan berbeda, diskriminatif atau bahkan termarjinalkan. Sebab kemajemukan itu adalah bagian dari fitrah kehidupan yang diberikan oleh Tuhan.

Konsep kemajemukan ini sesungguhnya bukanlah istilah baru. Di Indonesia sejak masa kolonial istilah ini telah dikenal. Dalam perkembangannya, keragaman itu dipertemukan oleh kesamaan nasib, sejarah, wilayah, juga asas ketuhanan yang mendorong bangsa ini membulatkan tekad dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dengan Pancasila sebagai asas tunggal Negara.[1]

Menurut Nia Sjarifuddin, koordinator Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI), kemajemukan yang berarti pula keberagaman merupakan anugerah Tuhan yang ada dalam realitas hidup setiap manusia. Perbedaan warna kulit, suku, ras, bahasa, agama, golongan, ataupun perbedaan pandangan politik dan ideologi, adalah keragaman yang harus dijaga agar memberikan manfaat bagi keharmonisan hidup dalam lingkungan semesta. Menurutnya, Indonesia telah dianugerahi kemajemukan yang luar biasa. Mulai dari Sabang sampai Merauke, terdapat berbagai macam jenis warna kulit; juga berpuluh-puluh suku anak bangsa; bahasa yang berbeda, dari logat sampai strata bahasanya. Namun demikian kita semua tetap menyebut diri Indonesia.

Sementara, bicara tentang perempuan dan kemajemukan, menurut Nia, perempuan itu sendiri adalah bagian dari kemajemukan. Jenis kelamin perempuan yang berbeda dengan laki-laki adalah hal yang ragam pula. Apalagi ketika perempuan juga memiliki bahasa yang berbeda, warna kulit, suku, ras, agama, juga pandangan politik yang berbeda-beda, itu semakin mengukuhkan keberagamannya.[2]

Kemajemukan dalam Sejarah Gerakan Perempuan

Bila kita menilik sejarah gerakan perempuan Indonesia pun diwarnai alasan dan latar belakang yang beragam. Jauh sebelum dilaksanakannya Konggres Perempuan 1928, berbagai tokoh yang patut dicatat dalam sejarah gerakan perempuan bergerak di ranah yang berbeda-beda. Sebutlah Ratu Shima dari kerajaan Kalingga, Tribhuwana Tungga Dewi dari Kerajaan Majapahit, keduanya telah membuktikan kepiawaian dalam ranah politik. Atau nama-nama seperti Laksamana Malahayati dan Tjoet Nyak Dien dari Aceh, maupun Martha Christina Tiahahu dari Maluku, mereka banyak berkiprah dalam memimpin perang fisik dalam rangka merebut kemerdekaan. Sementara RA. Kartini dari Rembang Jawa Tengah dan Dewi Sartika dari Bandung, keduanya bergerak di dunia pendidikan. Di Sumatera Barat, Rohana Koedoes berjuang melalui harian Soenting Melajoe di jalur tulis menulis (jurnalistik).[3] Para tokoh perempuan itu memiliki wilayah perjuangannya masing-masing. Itu semua menunjukkan bahwa perempuan sangatlah beragam. Sebagai perempuan, tak hanya berbeda suku, agama, atau warna kulit, tapi mereka juga punya idealisme dan kiprah yang berbeda-beda di tengah masyarakat pada masanya.

Beragamnya kiprah tokoh-tokoh perempuan tersebut mendapat tanggapan yang beragam dari aktivis-aktivis perempuan masa kini. Ini membuat apa yang dilakukan para tokoh perempuan tersebut juga semakin ragam. Misalnya, pendapat sebagian tokoh perempuan masa kini tentang apa yang dilakukan RA. Kartini untuk perempuan. Menurut mereka upaya Kartini belum bisa dianggap jadi perjuangan nyata. Sebab dalam sejarahnya Kartini adalah perempuan yang bersedia dinikahi seorang laki-laki yang telah beristri. Bagi perempuan yang kontra terhadap praktik poligami, itu dianggap sebagai hal yang kurang konsisten pada nilai solidaritas sesama perempuan. Atau barangkali itu menunjukkan ketidakberdayaan Kartini melawan budaya.[4]

Berbeda dengan pandangan terhadap Kartini, tokoh-tokoh perempuan masa kini berpendapat apa yang dilakukan Dewi Sartika lebih riil sebagai contoh upaya perempuan memajukan kaumnya di bidang pendidikan. Pejuang perempuan yang satu ini telah terbukti mendirikan sekolah dengan nama Sekolah Istri yang kemudian berganti nama dengan Sekolah Keutamaan Istri di tahun 1904. Dalam kurun waktu delapan tahun, hingga 1912, ia telah berhasil mendirikan sembilan sekolah, atau 50 persen dari jumlah sekolah yang ada di Pasundan.[5]

Selama dasawarsa pertama abad XX ini, telah banyak lahir organisasi perempuan. Sekalipun mereka datang dari berbagai kelompok dan golongan yang berbeda, mereka dapat bersatu, bersama-sama mengidentifikasi kepentingan-kepentingan untuk perempuan.

***

Soekanti Suryochondro menuturkan, dalam sejarah gerakan perempuan, kemunculan berbagai organisasi perempuan juga diwarnai latar belakang dan gagasan yang beragam. Untuk menyampaikan gagasan mereka yang beragam, setiap organisasi ini menerbitkan majalah sendiri-sendiri.[6] Dalam konggres perempuan pertama, berbagai keragaman ini mulai nyata terlihat.

Konggres Perempuan Indonesia I yang berlangsung pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta ini melahirkan organisasi federasi perempuan PPPI (Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia Indonesia). PPPI yang kemudian berubah nama jadi PPII, Perikatan Perkumpulan Istri Indonesia, 1929, inilah yang mampu menghimpun organisasi-organisasi perempuan yang beragam tersebut. Sekalipun mereka datang dari background yang berwarna-warni, mereka berhasil menyatukan pandangan kelompok-kelompok perempuan terhadap isu perempuan. Seperti tema tentang kesamaan hak politik perempuan; kedudukan perempuan dalam hukum perkawinan (Islam); pendidikan dan perlindungan anak-anak; pendidikan kaum perempuan; pencegahan perkawinan usia dini; nasib yatim-piatu dan para janda; pentingnya peningkatan martabat perempuan dan kejahatan kawin paksa. Namun demikian, tak dipungkiri dalam periode ini, kemajemukan perempuan banyak mendapatkan tantangan, di antaranya yang berbuntut pada pembubaran PPII pada Konggres Perempuan Indonesia III.[7]

***

Memasuki babak baru, di masa kepemimpinan Soekarno, kemajemukan yang melingkupi realitas kehidupan perempuan terangkum dalam konsep “bhineka tunggal ika”, berbeda-beda tapi tetap satu jua. Di sini perempuan masih berjuang bersama memperoleh hak politiknya, pendidikan, juga kesempatan kerja. Tapi persoalan perlakuan diskriminatif antara laki-laki dan perempuan itu masih ada. Itu yang membuat mereka bersatu dalam perbedaan yang majemuk.

Secara umum semua organisasi perempuan saat itu menyuarakan kepentingan gender perempuan (female gender interest). Namun perkembangannya banyak kalangan perempuan yang terhegemoni isu-isu penegakan revolusi dan sebagainya. Hal ini kemudian membuat perpecahan di antara organisasi perempuan. Perbedaan pada pilihan isu dan tema perjuangan yang diusung organisasi-organisasi perempuan ini, disebut-sebut telah dimanfaatkan sebagian kelompok untuk memecah persatuan perempuan yang pada dasarnya memang memiliki latar perbedaan yang beragam.

Di masa orde lama ini, gerakan perempuan memiliki agenda perbaikan aturan perkawinan yang tidak merugikan semua pihak (utamanya kaum perempuan). Ini jadi kepentingan terpokok yang diperjuangkan perempuan saat itu. Namun Soekarno seolah mengingkari perjuangan perempuan dengan praktik poligaminya. Semula Fatmawati yang menyangsikan perlunya Undang-undang Perkawinan yang diperjuangkan organisasi-organisasi perempuan itu pun baru menyadari pentingnya UU tersebut. Pun demikian, poligami Soekarno ini sempat membuat perpecahan di antara kelompok perempuan. Gerwani yang awalnya selalu tampil di depan tidak pernah lagi memprotes dengan kritis perkawinan Soekarno dengan Hartini. Namun Gerwani sendiri yang telah pecah jadi dua kubu, feminis dan komunis, mengklarifikasi secara perseorangan anggota-anggotanya telah mengambil sikap menentang pula perkawinan poligami Soekarno itu.[8]

***

Berakhirnya Orde Lama lewat peristiwa 1965-1966, tampaknya membuat kemajemukan perempuan yang telah terbangun dalam persatuan perjuangan samar-samar memudar. Sekalipun di akhir-akhir masa kepemimpinannya, Soekarno masih sempat berseru dalam pidatonya pada Hari Ibu 22 Desember 1965:

“… Perjuangan kita saat ini ialah menciptakan syarat-syarat agar kaum perempuan dapat memenuhi cita-citanya. Satu-satunya jalan untuk mencapai hal itu adalah melalui persatuan, tanpa memandang perbedaan-perbedaan agama, golongan, atau apapun juga; karena itu perempuan harus menghentikan perselisihan”.

Tampaknya setelah pidato Soekarno itu gelombang sejarah kembali berputar. Kekuasaan negara berpindah kepada Orde Baru, dan perempuan memang tampak berhenti berselisih. Namun, perempuan juga berhenti (baca: dihentikan) berjuang untuk menyuarakan hak-haknya. Perempuan coba “diseragamkan” melalui konsep Panca Dharmawanita yang membatasi ruang geraknya. Mereka direduksi perannya sebatas istri dan ibu yang mengabaikan potensi pribadi yang dimilikinya.

Semasa Orde Baru masih berkuasa, banyak perempuan etnis Tionghoa yang mendapatkan perlakuan kekerasan. Mereka memperoleh perlakuan diskriminatif, tak hanya karena mereka perempuan, tapi juga karena bersuku Tionghoa yang berbeda dengan Jawa, Madura, Batak, Sunda, Bali dan lainnya. Baik perempuan maupun laki-laki Tionghoa mendapatkan perlakuan beda dari negara, karena kebijakan asimilasi yang diberlakukan. Kebijakan ini tidak hanya ditandai dengan penghapusan pilar-pilar kebudayaan Tionghoa, tapi juga penutupan sekolah, pembubaran organisasi, pembredelan media massa, dan simbul-simbul adat-istiadat etnik.[9]

Mely G. Tan, doktor bidang sosiologi murni, yang kebetulan adalah seorang Perempuan, suku Tionghoa, dan non-muslim, banyak menulis tentang diskriminasi berdasar etnis tersebut.[10] Menurut Mely, kekerasan terhadap perempuan dan seluruh etnis Tionghoa memang berakar dari budaya bias gender yang menganggap perempuan berkedudukan lebih rendah ketimbang laki-laki. Tapi diskriminasi itu diperkuat lagi dengan budaya yang bias etnis, bias kelas sosial, juga ras, warna kulit, dan sebagainya. Mely mencontohkan hal ini dengan kondisi perempuan Tionghoa di Kalimantan Barat yang miskin. Menurutnya, di Kalimantan mereka banyak yang menjadi korban ‘perdagangan perempuan’ ke Taiwan untuk dijadikan istri atau pembantu yang dieksploitasi. Namun, banyak masyarakat yang tak peduli, selain karena bias gender juga karena prasangka etnis ini, atau bahkan karena kurangnya toleransi terhadap perbedaan, dan kemajemukan.

Jelang reformasi 1998, puncak ketidakpedulian terhadap kemajemukan ini terjadi. Perempuan etnis Tionghoa banyak yang menjadi korban kebencian sekelompok orang atas perbedaan. Mereka tidak hanya mengalami intimidasi psikis tapi juga kekerasan fisik. Perempuan-perempuan tak bersalah itu mengalami pelecehan seksual, bahkan pembunuhan. Entah apa salahnya, hingga mereka jadi korban amuk massa dalam tragedi Mei Riots atau Kerusuhan Mei 1998. Apakah karena mereka berbeda dengan orang Jawa, Sunda, Batak ataupun lainnya?

Jelang Kerusuhan Mei itu sebenarnya berbagai kelompok perempuan telah berupaya menyatukan diri dalam perbedaan yang ragam, dengan membentuk kesatuan aksi Suara Ibu Peduli. Suara Ibu Peduli ini dimotori para aktivis perempuan seperti Gadis Arivia, Karlina Supelli, dan Wilasih. Mereka bergerak satu suara, tanpa lagi mempersoalkan perbedaan, untuk menuntut penurunan harga susu dan kebutuhan bahan pokok bagi seluruh rakyat Indonesia. Mereka telah bersatu lintas suku, agama, ras, golongan, dan bahkan kepentingan-kepentingan. Tapi memasuki fase pemerintahan berikutnya, tantangan yang dihadapi kaum perempuan dalam kemajemukan terus saja ada.

***

Di masa reformasi, kemajemukan diakui orang sebagai hal yang baik. Terutama untuk menyatukan seluruh bangsa yang telah tercerai-berai akibat luka sejarah. Baik itu berupa tindak kekerasan atau diskriminasi oleh negara maupun kelompok. Ini sebagaimana yang diungkapkan Syafiq Hasyim, mantan Direktur Internal Rahima tahun 2000-2002. Menurutnya untuk menampung perbedaan jenis kelamin, perbedaan aspirasi, perbedaan kota dan desa, etnis, kelompok, atau perbedaan pandangan dan afiliasi politik, tidak ada yang lain selain konsep pluralisme (kemajemukan) dan multikulturalisme. Hanya dua konsep inilah yang mampu menyatukan perbedaan. Bahkan lebih lanjut Syafiq menilai, konsep ini tidak hanya akan menyatukan perbedaan, tapi juga menumbuhkan kepedulian dan pembelaan secara aktif terhadap perbedaan itu.[11]

Kini di tengah upaya mencari titik temu di antara perbedaan, tampaknya isu moral telah digunakan untuk memecah belah kemajemukan perempuan. Sebut saja yang terakhir, Rancangan Undang-undang Pornografi (RUU Pornografi) yang telah lama diperbincangkan, kini sudah menjadi undang-undang negara yang harus ditaati semua warganya. Sayang, meski telah diundangkan peraturan ini masih menyisakan perdebatan. Pasalnya, dalam UU tersebut tidak ada cara pandang yang plural terhadap perempuan. Perempuan belum diposisikan sebagaimana laki-laki, mereka masih dijadikan obyek dari UU tersebut. Sebab perempuan masih dinilai sebagai penyebab utama terjadinya pornografi sehingga harus dikenakan aturan-aturan dan sanksi-sanksi tertentu. Implikasinya mereka sangat rentan untuk dikriminalkan, apalagi pandangan-pandangan tersebut cenderung disandarkan pada alasan moral dan agama yang kebanyakan dilihat dari standar laki-laki.

Ini memang memprihatinkan. Alih-alih untuk menyatukan visi menghargai keragaman, malah yang ada, justru perpecahan pendapat muncul dari kalangan perempuan sendiri. Di sini seolah perempuan terbagi dalam dikotomi-dikotomi. Mereka yang pro terhadap undang-undang ini dikategorikan sebagai perempuan Islami, sedang yang kontra dianggap sebagai perempuan sekuler yang telah terbaratkan. Jika saja mereka bersatu tentu hal ini akan menjadi kekuatan yang besar untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita kesetaraan, keadilan, dan kemajemukan, dan menghapus diskrimanasi antara laki-laki dan perempuan.

Kemajemukan dalam Islam

Dalam agama Islam keberagaman atau al-ta’addudiyyah merupakan satu keharusan (al-dharuriyyah) dalam kehidupan. Bahkan keberagaman adalah bagian dari tujuan agama itu sendiri. Ia adalah sunnatullah. Dalam Alquran Allah swt. telah berfirman:

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini telah menyebutkan, keragaman itu meliputi jenis kelamin, laki-laki dan perempuan, suku, bangsa, ruang dan tempat tinggal manusia. Dalam keragaman itu, tidak lain Tuhan menginginkan agar manusia saling mengenal, menghargai perbedaan satu sama lain. Atau bahkan saling belajar, bertukar ilmu dan pengetahuan atas apa yang dimiliki dan tidak dimiliki satu sama lain. Sungguh tak ada kelebihan pada masing-masing perbedaan itu, kecuali atas dasar ketakwaan pada Sang Pencipta.

Allah tidak hanya menciptakan keberagaman itu pada diri manusia. Akan tetapi Allah swt. telah membuat keberagaman itu pada seluruh ciptaannya. Ini tidak lain adalah untuk menciptakan keharmonisan bagi kehidupan seluruh alam. Dalam ayat yang lain Allah swt. berfirman:

“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya yang bermacam-macam itu bila dia telah berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan mensedekahkah pada fakir-miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-An’am: 141)

Inilah bukti, Tuhan telah menciptakan semesta ini dalam kesengajaan yang beragam. Jika keberagaman itu rusak, maka umat manusialah yang hendak menanggung kerugiannya.[12] Tampak Islam sesungguhnya sangat menghormati semua bentuk keberagaman.

Dalam kesempatan haji wada’ Nabi saw. bersabda:

”Wahai umat manusia! Sesungguhnya Tuhanmu Maha Esa. Kalian masing-masing berasal dari Adam, sedang Adam diciptakan dari tanah. Orang-orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas non-Arab, dan sebaliknya tidak ada keutamaan non-Arab atas orang Arab. Juga tidak ada keutamaan orang berkulit merah atas orang berkulit putih. Demikian juga sebaliknya. Kecuali karena ketakwaannya. Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikan ini semua?! Ya Allah, saksikanlah ini. Dan hendaklah yang hadir di sini menyampaikannya pada yang tidak hadir”. (HR. Ibn Hisyam)

Semakin jelas sudah, keberagaman warna kulit, ras, ataupun golongan, tidak membawa pertentangan, ataupun kelebihan apa-apa di masing-masing pihak. Keragaman itu ada namun bukan untuk dibeda-bedakan. Dengan ayat-ayat agama tersebut, kemajemukan dan semua keanekaragaman itu telah diakui Islam. Tapi, selama ini yang memiliki peluang untuk menerjemahkan semua pengetahuan atau menafsirkan kitab suci adalah ulama laki-laki yang memiliki bias dalam sudut pandang mereka. Jika terjadi bias dalam penafsiran, maka biaslah pengetahuan yang diberikan kepada umat. Hal ini merusak pemahaman umat tentang segala bentuk kemajemukan.

Dalam hal ini Syafiq Hasyim berpendapat, perbedaan antara lelaki dan perempuan itu ada; perbedaan di antara kaum perempuan sendiri pun ada; mulai dari warna kulit, suku, ras, agama, hingga pemikiran. Namun jangan sampai terjadi pembedaan di antara mereka. Diskriminasi itu harus dihilangkan. Sebagaimana anjuran hadis Rasulullah saw. yang lain:

“Sesungguhhya darah dan harta kalian itu suci (haram dinodai), di hari yang suci ini dan di tempat yang suci ini. Tidak ada keunggulan orang Arab dan non-Arab (dan sebaliknya) dan juga orang yang berkulit putih atas orang yang berkulit hitam, kecuali karena takwanya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitulah Islam menempatkan posisi setiap perbedaan. Islam juga memberikan perempuan sebuah tempat yang terhormat dan banyak hak. Namun selama bertahun-tahun sistem patriarkal dan kekuasaan politik memang telah memarjinalkan mereka dan membuat hak-hak itu jadi tidak terlihat.

Betapa Tuhan telah menunjukkan hal-hal yang paling mendasar tentang kemajemukan. Manusia itu ada laki-laki dan perempuan. Manusia diharuskan saling mengenal satu sama lain, dan hanya akan dinilai Tuhan dari ketakwaannya, sehingga tak ada alasan untuk merendahkan sesama. Keberagaman sangat dibutuhkan dalam kehidupan semesta. Menghapus perbedaan sama halnya melawan hukum alam, sunnatullah.[]

Catatan Akhir:


[1] Prof Dr Abdul Hadi WM, Pancasila, Nasionalisme, Islam, dan Kolonialisme, dalam http://ahmadsamantho.wordpress.com/2007/11/12/195/

[2] Nia Sjarifuddin: 2008, Kemajemukan Perempuan itu Kodrat Kehidupan, Opini Swara Rahima Edisi 26

[3] AD. Kusumaningtyas: 2008, Refleksi Gerakan Perempuan (Muslim) di Indonesia, Rahima Jakarta

[4] Gadis Arivia: 1997, dalam Mengurai Gerakan Perempuan Indonesia, pada http://mukhotibmd.easyjournal.com/

[5] Marianne Katoppo: 2000, pada http://mukhotibmd.easyjournal.com/

[6] Sukanti Suryochondro: 1995, pada http://mukhotibmd.easyjournal.com/

[7] Saskia Eleonora Wierenga: 1999, Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia, Garba Budaya dan Kalyanamitra, Jakarta

[8] Nani Suwondo anggota Perwari, dalam Saskia Eleonora Wierenga: 1999, Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia, Garba Budaya dan Kalyanamitra, Jakarta

[9] Leo Suryadinata, Antropologi Indonesia: Etnik Tionghoa, Pribumi Indonesia dan Kemajemukan; Peran Negara, Sejarah, dan Budaya, dalam http://www.fisip.ui.ac.id/antropologi/httpdocs/jurnal/2003/71/02ktpls71.pdf

[10] Mely G. Tan, dalam Seminar dan Bedah Buku: Multikulturalisme, Peran Perempuan dan Integrasi Nasional. Persembahan 78 tahun Mely G. Tan, Unika Indonesia Atma Jaya, pada http://www.atmajaya.ac.id/content.asp?f=0&id=4403

[11] Syafiq Hasyim: 2008, Semua Keanekaragaman itu Diakui Islam, Opini Swara Rahima Edisi 26

[12] Syafiq Hasyim: 2008, Islam; Keberagaman dan Dunia Pesantren, dalam Modul Islam dan Multikulturalisme, ICIP Jakarta


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: