Oleh: hafidzohalmawaliy | April 30, 2009

Banggalah Jadi Muslimah di Belanda (Menuju Jejaring Komunitas Perempuan Global II)

kompetiblogbadge-neo3Sebagian orang Barat, termasuk sebagian warga Belanda berpikir muslimah adalah unik. Itulah sebabnya saat ini, feminisme Islam dianggap sebagai isu paling menarik (hot issue) untuk dikaji di Belanda.

Sebagian warga Belanda menganggap jilbab misalnya, adalah salah satu bentuk penjajahan agama terhadap perempuan. Namun di sisi lain, justru para muslimah di Belanda bangga mengenakan jilbab di tempat kerja, kampus, atau tempat publik lainnya.

Jilbab ini adalah salah satu bentuk yang membedakan Indonesia dengan Belanda. Di Indonesia, tidak jarang terjadi seorang muslimah rela menanggalkan jilbab demi tuntutan pekerjaannya sebagai sekretaris, asisten direktur, atau profesi lainnya. Sementara di Belanda, bukan karyawan yang dituntut untuk menyesuaikan diri dengan peraturan perusahaan dalam hal berpakaian. Melainkan perusahaan yang bisa dituntut secara hukum karena telah melakukan tindakan diskriminasi atas nama agama.

“Kini banyak kaum muslimah di Belanda justru bangga ketika mengenakan jilbab ke tempat kerja, universitas atau tempat lainnya.” Kata mahasiswi program master Faculty of Philosophy Vrije Universiteit De Boelelaan Amesterdam, Nina Van Egmond dalam wawancara dengan saya di Jakarta.

Menurut Nina, bagi sebagian masyarakat Belanda melihat muslimah mengenakan jilbab adalah tindakan yang tidak masuk akal. Sebab selain dianggap menjajah hak perempuan untuk berpakaian, juga dianggap mengganggu pemandangan publik. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, justru kini mulai banyak pihak yang mulai memberikan simpati terhadap kaum muslimah.

Hal tersebut terjadi, terutama setelah isu tentang fundamentalisme Islam dihembuskan oleh salah seorang politisi Belanda serta Pemimpin Freedom for Party, Geert Wilders, melalui film Fitna pada 2008 lalu. Film durasi pendek yang diklaim Wilder sebagai isi dari Alquran itu tak urung menimbulkan kontroversi dan reaksi dari berbagai kalangan komunitas muslim di dunia. Kecaman dan demonstrasi merebak di mana-mana.

Namun, terlepas dari pro kontra terhadap film Fitna tersebut, menurut Nina, Wilders benar-benar mampu memanfaatkan isu fundamentalisme Islam sebagai komoditas politik. Sebab usai hal tersebut, tidak sedikit dukungan dari masyarakat atas kiprah Wilders. Namun bagi Nina, tidak sedikit pula masyarakat Belanda yang prihatin atas politisasi isu agama ini. Apalagi populasi muslim di Belanda adalah minoritas atau sekitar 5-15 persen penduduk Belanda. Sehingga wajar, jika komunitas ini rawan mengalami tindakan diskriminasi.

Dari fenomena tersebut, Nina mengaku sangat tertarik ingin belajar tentang feminisme Islam. Dia akhirnya memutuskan untuk meneliti tentang kiprah muslimah di Indonesia dengan studi kasus tentang apa yang dilakukan kawan-kawan muslim di Yayasan Rahima. Yaitu, sebuah lembaga nirlaba yang berkonsentrasi sebagai Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan. Di sini, Nina mengaku kagum dengan kiprah perempuan muslim di Indonesia. Bahkan dia menilai, apa yang dia ketahui dari hasil bacaannya di media massa dan pemahaman banyak orang di Belanda, ternyata sangat berbeda 180 derajat dengan apa yang terjadi di Indonesia.

“Ternyata komunitas muslimah di Indonesia sangat menyenangkan. Ini sangat berbeda dengan pemahaman banyak orang di Belanda selama ini.” Ujar Nina kepada saya.

Selain itu, Nina juga mengaku akhirnya dirinya memiliki tugas yang berat. Yakni mengkomunikasikan hasil penelitiannya ini kepada teman-teman dan koleganya tentang kondisi muslimah di Indonesia. Menurut dirinya, Yayasan Rahima telah menunjukkan bahwa tidak semua muslimah memiliki paham fundamentalis. Selain itu, muslimah di Indonesia ternyata lebih bisa berkiprah dan berkarya dibandingkan di negara asalnya, di mana perempuan belum memiliki kesempatan yang sama dalam hal berkarir (selengkapnya silahkan baca tulisan saya sebelumnya: Gap Gaji di Belanda, KDRT di Indonesia).

“Ini tugas yang berat bagi saya. Tapi saya berjanji akan menyebarkan informasi ini, bahwa muslimah ternyata tidak seperti yang mereka kira.” Kata Nina.

Bukan bermaksud apologi, namun Nina merupakan representasi perempuan berkebangsaan Belanda. Jika Nina saja kagum dengan keberadaan dan kiprah muslimah di Indonesia, Maka tidak ada salahnya, saya sebagai seorang muslimah ikut bangga dan berjuang menunjukkan kepada dunia, bahwa muslimah juga bisa menjadi feminis demi tegaknya hak-hak dan relasi setara lelaki dan perempuan. Sebab, hanya kaum muslimah sendirilah yang mampu menepis opini sebagian orang Barat, yang menganggap muslimah terjajah hanya karena mengenakan jilbab.

Ambigu Soal Jilbab

Jika kaum muslimah di Belanda saja bisa dengan kepala tegak mengenakan jilbab ke tempat kerja dan tempat publik lainnya, maka hal itu patut menjadi catatan. Sebab kontroversi penggunaan jilbab di tempat publik memang masih menuai pro-kontra di Negeri Kincir Angin itu.

Diakui atau tidak, tampaknya masih terbangun sikap ambigu di beberapa negara Eropa, termasuk Belanda, terkait kebebasan menggunakan jilbab. Sebab di satu sisi pemerintah setempat ingin menghilangkan diskriminasi atas nama agama, namun di sisi lain isu jilbab juga dimanfaatkan sebagai komoditas politik.

Nina Van Egmond, mengisahkan ada beberapa kasus muslimah di Belanda mengajukan komplain ke lembaga Dutch Equal Treatment Commission atau Commissie Gelijke Behandeling (CGB).

CGB merupakan sebuah lembaga independen yang menangani komplain dari masyarakat korban diskriminasi. CGB tidak hanya menangani kasus diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, namun juga ras, agama, orientasi seksual, keyakinan, durasi waktu pekerjaan, status karyawan dalam bekerja, cacat fisik atau penyakit kronis, hingga umur.

Terkait dengan penggunaan jilbab, tidak jarang CGB justru mengabulkan komplain dari muslimah yang merasa didiskriminasi di tempat kerjanya. Dengan demikian, perusahaan harus mengijinkan muslimah untuk tetap menggunakan jilbab dalam bekerja. Sehinga perusahaan tidak boleh melarang karyawannya untuk berjilbab.

Sementara berdasarkan catatan BBC (17/11/2006) jilbab telah menjadi isu kontroversi di beberapa negara Eropa. Tidak hanya di Belanda, kontroversi itu terjadi di Prancis, Italia, Jerman, Rusia dan Belgia. BBC mencatat, per 2006, di Prancis jilbab sudah diijinkan untuk dipakai muslimah di universitas namun dilarang di sekolah-sekolah. Pelarangan jilbab di sekolah ini sudah diperkenalkan di Prancis sejak tahun 2004. Sementara di Inggris tidak ada aturan yang melarang penggunaan jilbab.

Sedang di Jerman, meskipun pada September 2003 Pengadilan Konstitusi Federal mengatur guru-guru yang ingin menggunakan jilbab, namun pemerintah Jerman menyerahkan sepenuhnya aturan tentang jilbab kepada pemerintah lokal. Tercatat, empat negara bagian di Jerman sudah mengeluarkan aturan pelarangan menggunakan jilbab bagi guru-guru. Juga satu negara bagian melarang Pegawai Negeri Sipil (PNS) menggunakan jilbab. Dan di Rusia, Pengadilan Tinggi negara setempat sudah mematahkan Peraturan Menteri yang melarang penggunaan jilbab dalam foto passport.

Di Belanda, per 2006 jajaran kabinet mendukung proposal Kementrian Imigrasi yang melarang muslimah untuk menggunakan jilbab ditempat publik. Namun kebijakan ini menuai kritikan dan dianggap sebagai tindak kekerasan terhadap perempuan sekaligus Hak Asasi Manusia (HAM).

Jejaring Komunitas Perempuan

Bagaimanapun, kiprah CGB dalam memberantas tindakan diskriminasi atas nama ras, agama, jender, atau lainnya patut mendapatkan penghargaan. Selain itu, kalangan cendikiawan berkebangsaan Belanda yang tertarik ingin meneliti kondisi muslimah juga menjadi nilai tambah. Secara sederhana, bisa dikatakan masyarakat Barat tidak hanya penasaran terhadap kehidupan sosial kaum muslimah. Namun juga mulai memahami bahwa kalangan muslimah juga bisa pluralis dan open minded.

Nina Van Egmond pun menyadari paham fundamentalis ada di semua agama. Tidak hanya di Islam, namun juga Kristen, maupun agama lainnya. Untuk itu, satu kesimpulan tidak bisa digeneralisasi berlaku bagi semua kalangan.

Terkait hal ini, jika saya memperoleh kesempatan untuk melanjutkan studi di Belanda maka saya akan tunjukkan kepada masyarakat Barat bahwa muslimah juga mampu berkarya.

Jika Nina tertarik studi tentang kondisi muslimah di Indonesia, maka saya pun akan melakukan kajian kondisi muslimah di Belanda. Tidak hanya itu saya juga ingin mempelajari bagaimana sistem di negara itu memberikan ruang gerak kepada perempuan untuk berkarya. Keberhasilan Belanda dalam mewujudkan representasi perempuan di Parlemen adalah contoh sukses. Selain itu, kiprah CGB yang menjadi peran kunci dalam membantu mengurangi tindakan diskriminasi juga menarik untuk dikaji. Sehingga ada praktik-praktik perwujudan kesetaraan jender yang bisa diadopsi Indonesia di kemudian hari.

Meskipun di sisi lain, sebagai muslimah saya memiliki kewajiban untuk mengkomunikasikan kepada orang-orang Barat bahwa kehidupan muslimah tidaklah seperti yang mereka pikirkan. Cap teroris yang selama ini dilekatkan kepada kaum muslim adalah salah. Sebab selalu ada oknum yang memanfaatkan situasi demi kepentingan pribadinya.

Toh, sebenarnya menurut Nina, ada beberapa muslimah di Belanda yang cukup terkenal. Sebutlah Ayaan Hirsi Ali, perempuan kelahiran Somalia 13 November 1969 warga negara Belanda dan sempat berkiprah sebagai salah satu anggota parlemen. Hirsi Ali menjadi cukup fenomenal dan kontroversial karena kritikannya terhadap ajaran-ajaran Islam yang akhirnya mengakibatkan nyawanya terancam. Beberapa buku dan banyak penghargaan juga telah diraih oleh Hirsi Ali. Namun kini setelah pengadilan negeri setempat menyarankan agar Hirsi Ali pindah ke negara lain, dia mengajukan kewarganegaraan di Amerika Serikat (AS).

Terlepas kontroversi Hirsi Ali sebagai tokoh muslimah di Belanda, jika tak dianggap muluk, secara pribadi saya ingin membangun jejaring komunitas perempuan global. Hal ini tak lain adalah untuk saling memberikan dukungan satu sama lain dalam berikhtiar mengupayakan keadilan bagi perempuan di seluruh dunia. Salah satunya,

keinginan awal saya saat ini adalah bagaimana menghilangkan stigma yang ditempelkan di kalangan muslimah yang berjilbab bahwa mereka fundamentalis. Selain itu, saya juga ingin menunjukkan bahwa kalangan muslimah harus bangga menjadi dirinya dan terus berkarya, meskipun berada di Belanda, atau di negara-negara lain di dunia. [ ] Hafidzoh

Peserta Kategori umum

Sumber :

http://72.14.235.132/search?q=cache:zIKofyhOM4IJ:news.bbc.co.uk/1/hi/world/europe/5414098.stm+muslim+head+scarf+netherland&cd=17&hl=en&ct=clnk&gl=id

http://72.14.235.132/search?q=cache:irMgImCLrk4J:www.humanityinaction.org/docs/Bendrif__Haney.pdf+head+scarf+netherland&cd=5&hl=en&ct=clnk&gl=id

http://72.14.235.132/search?q=cache:dc5_ClafvsEJ:www.thedailybeast.com/blogs-and-stories/2008-10-06/life-on-the-run/+ayaan+hirschi+ali+now+lived+in+2009&cd=2&hl=en&ct=clnk&gl=id

Hasil wawancara saya dengan Nina Van Egmond mahasiswi program master

Faculty of Philosophy Vrije Universiteit De Boelelaan Amsterdam di

Yayasan Rahima.


Responses

  1. mantap!!

  2. Kata Asma Barlas ,… Being a muslim feminist is not easy. Di kalangan muslim, seringkali dianggap bukan muslim betulan, di kalangan kaum feminis, dianggap perjuangannya setengah hati. But, I think I don’t have the contradiction in me, in being muslim or being a feminist. I’m proud of my self. I’am a muslim and also a feminist.

    Soal jilbab, itu hak asasi manusia. Boleh pakai boleh tidak. It is optional, girl. kalau anda memutuskan pakai, jangan karena dipaksa atau terpaksa. Kalaupun tidak, that’s your right. Ini soal bagaimana kamu memaknai teks, memahami realitas kultural, dan mendefinisikan diri.. Aku punya cerita, yang mungkin barangkali buat orang lain gak masuk akal. tapi diprotect dari makan barang haram seperti “sate kobra” atau”daging babi” gara-gara waktu aku mau beli makan dan pesan menunya dia bilang. Mbak kan muslim, gak boleh makan ini. Coba, kalau dia nggak lihat aku kerudungan. mana dia peduli ?

    be your self , and do your best. Respect yourself and other people will respect you…..

  3. Jilbab dapat menjadi salah satu ciri atau identitas bagi perempuan muslim. Dengan berjilbab secara tidak langsung telah menunjukan bahwa ia adalah muslimah, meski di sisi lain jilbab dapat pula menjadi bagian dari kultur masyarakat muslim.

    Namun demikian, jilbab tidak dapat begitu saja diartikan sebagai islam fundamentalis atau islam radikal, karena jilbab tak ada sangkut pautnya dengan dua hal tersebut.

    Jilbab menjadi masalah ketika ia masuk ke wilayah publik dan politik seperti yang dikatakan oleh penulis artikel ini. Di ranah ini tentu ada banyak interest yang terlibat didalamnya. di negara-negara eropa salah satunya Belanda, pemakaian jilbab menjadi isu yang menarik karena di negara ini banyak imigran muslim yang datang untuk bekerja maupun belajar. mereka adalah imigran dari negara Timur tengah seperti Maroko, Turki, Iran dan lainnya; negara Asia seperti Pakistan, India, Indonesia, Malaysia, dan lainnya. selain itu, tentu saja ada penduduk asli yang muslim yang ingin menggunakan jilbab di wilayah publik. melihat kenyataan ini mau tidak mau negara perlu memberi ruang dan atau mengakomodasi permasalahan yang berkembang di masyarakat.

  4. Sebab selain dianggap menjajah hak perempuan untuk berpakaian, juga dianggap mengganggu pemandangan publik

    wah, kalau menurut saya mungkin tepatnya mengganggu pemandangan nafsu. hehehhe

    soal film fitna, memang menjadi ajang komoditas politik segelintir penguasa saja!

    “Ternyata komunitas muslimah di Indonesia sangat menyenangkan. Ini sangat berbeda dengan pemahaman banyak orang di Belanda selama ini.” Ujar Nina kepada saya.

    jelas disini bahwa, terjadi penyelewengan dipihak media, independensinya dalam memberikan informasi yang real ternyata dimanipulasikan, tentunya demi kepentingan, entahlah kepentingan apa, atau mungkin agar laku.

    ya, benar-benar terjadi ambiguititas di negera-negara Eropa, mau baik tapi masih mau jahat juga.

    salam kenal

  5. saya
    pasti akan selalu bangga menjadi muslimah…:)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: